Ada beberapa fakta yang menyedihkan bahwa sistem pendidikan yang diharapkan melahirkan generasi yang jujur dan tangguh menghadapi segala permaslahan justru malah menciptakan generasi yang tidak prnah optimis dengan apa yang dilakukan dan munculnya pemahaman bahawa Nilai adalah standar baku dalam pengevaluasian hasil belajar, kami berfikir ada banyak dampak lain yang dihasilkan oleh sistem ini, disampinhg hal hal diatas.
Beberapa kelamahan sistem pendidikan yang diimplementasikan pada hari ini adalah, sistem pengevalusian hasil belajar ebasis point dan penilaian , hal ini tentunya akan menciptakn asumsi dalam pemikiran kita semua (tidak hanya pesrta didik tetapi juga orang tua, guru dan semua stake holder pendidikan)bahwa tujuan akhir dari pendidikan adalah “ nilai”. Sehingga setiap tahap pendidikan peserta ajar selalu disuapi dengan metode-metode mendapatkan nilai baik, dan selalu diberondong dengan kecaman-kecaman jika mendapat nilai Buruk, tidak hanya dari orang tua tetapi juga dari guru) miris sekali memperhatikan hal ini. Ditambah lagi dengan “dukungan “ dari bebagai pihak yang menjadikan “nilai” sebagai acuan utama dalam pengambilan keputusan apapun, misalnya untuk bekerja dan memperoleh kesempatan kerja.
Sistem seperti ini juga menghasilkan sikap mental yang sangant tidak baik, karna peserta didik hany erorientasi pada nilai sehingga apapun yang dilakukannya hanya pada apa yang bias membuat nilainya Bagus, mencontek contoh kecil saja, bahkan jika ditilik substansi dari tujuan pendidikan, belajar keras saat akan ujian tes pun dapat diaktegorikan tindakan yang melenceng dari tujuan awal pendidikan, bukankah tujuan akhir dari sitem pendidikan adalah menghasilkan peserta didik yang mampu mengimplementasikan apa yang didapatkanya dalam proses pendidikan dan bukan Nilai. Untuk sistem pendidikan saat ini, nilai sedikitpun tidak bias menjadi alat pengukur yang representative untuk mengukur seberapa “implementatif” pengetahuannya atau ilmunya. Nilai juga tidk bias mengukur kemampuan spesifik dari seorang individu peserta ajar.
Alasan ketiga adalah pengukuran yang dilakukan lebih sering menggunakan media yang sama sekali tidak mencerminkan dasar yang baik, menjawa pertanyaan teori
Sistem pendidikan berbasis karya begitu kami menyebut solusi dari permasalahan sistem pendidikan selama ini, penilaian yang dilakukan bukan hanya pada kemapuan menjawa soal- soal toritis tetapi berdasarkan apa yang mampu “dibuat” oleh seorang pesertadidik dengan apa yang diperolehnya dalam bangku pendidikan, berdasarkan seberapa penerapan milmu yang diperolehnya dalam pendidikan. Dalam hal ini Sekolah Menengah Kejuraun sudah mendekati sistem ini.
Dalam sistem ini metode ajar yang digunakan jauh dari penyampaian materi dan menjawa soal- soal latihan. Tapi guru dan peserta didik dituntut untu mampu bersama mengaplikasikan teori yang ada pada proyek bersama dan mengambil hal-hal baru yang ditemukan, bahakan bukan bagaimana mengaplikasikan teori tapi bagaimana menjembatani lahirnya teori aru dari proyek tersebut, kedengarannya mungkin sangat eksakata, tapi pada dasarnya ini sangat aplikatif dan sangat mudah diimplementasikan karna logikanya semua ilmu beujung pada implementasi kehidupan.