Kamis, 08 September 2011

Ayah tak pernah Marah

Tak pernah ayahku memarahiku, jika Ia harus marah Ia hanya akan menyindir dan berkata dengan irama yang sedikit berat lalu sedikit menyampaikan nasihat. Apapun yang kulakukan, walaupun aku sendiri sadar  bahwa yang kulakukan adalah salah dan sangat patut dimarahi,  Ia hanya sedikit bernasihat dan mengatakan apa yang seharusnya kulakukan untuk selanjutnya, ayahku seperti “ayah juara satu”nya Andrea hirata.
Ia tak marah ketika aku menjatuhkan jam tangan yang baru dibelinya di hari pasar tepat sehari sebelumnya kedalam sungai yang sedang keruh dan tidak ketemu walaupun sudah dicari. Ia juga tidak marah ketika Ia tahu aku kedapatan menyelundupkan buku perpustakaan sekolah dan banyak lagi kemarahan ayah yang sudah diredamnya sendiri. Ia memang ayah juara satu.
Tapi ia tidak pendiam, ia periang. Tak tergambar di wajahnya bahwa ia memendam segala amarahnya, tak tergambar juga ia memikirkan apa yang sudah ku perbuat. Atau Ia tidak pernah “makan hati” dengan apa yang menurutku sudah menjadi beban baginya. Aku tidak tahu apakah karna ia sudah bosan atau sudah tidak peduli dengan rasa marahnya.
Kini ia sudah tua, jika tanggal lahir di KTPnya benar, maka sudah lima puluh tahun usianya. Terkait KTP ini nanti akan kuceritakan. sudah  Sembilan semester kuliahku dibiayainya, belasan tahun aku sekolah dengan keringatnya dan sudah bermacam pula kenakalan yang ku perbuat. Ia tetap seperti dulu masih tidak marah dan hanya sedikit menunjukkan raut wajah yang sudah dimakan usia. Urat-urat yang menyembul dilengannya sedikit put tidak menunjukkan ia darah tinggi dengan memendam segala kemarahan selama ini. Bahkan ketika aku SMP ia sempat sakit dan sakitnya adalah tekanan darah rendah.
Kalau kalian mengatakan Ia begitu karna aku adalah anak kesayangan. Maka ketahuilah Ia juga tiak pernah marah kepada Adikku.
Ayah yang tidak pernah tahu tepat tanggal, bulan dan tahun lahirnya sendiri, ketika akan memperbaharui KTP, membuat kartu kerja Ia selalu bingung dan menyebutkan tanggal dan bulan sembarangan. Ketika ku Tanya pun, jawabannya adalah “tanggal jo tahunnyo yo beda-beda, tapi tahunnyo samo ma..” . sederhana.
Hidupnya begitu sederhana, tak ada masalah dalam hidunya, bahkan ketika SPP ku sudah harus dibayar, semsntara Ia tidak tahu harus kemana meminjam, ia selalu berkata, “Bilo Terakhir Bayia SPPnyo, besuk apak kirim..”. kata-kata besok dan memastikan inilah yang sering membuat hatiku pilu. Karna aku tahu selalu bagaimana gajinya, dan aku yakin untuk kesekian kalinya ia akan meminjam lagi pada orang lain. Aku yakin seyakin yakinnya. Dan keyakinan ku ini terkadang membuatku merasa terharu untuk minta lagi padanya.
Kini, sudah saatnya aku pulang kampung. Bertemu lagi dengannya dan menyampaikan sebuah berita gembira : aku mendapat beasiswa
Dan untuk pertama kalinya Ia marah dan lebih dari sekedar kecewa. Aku tak tahu kenapa, tapi perubahan raut wajah dan suaranya yang meninggi bertepatan dengan selesainya aku memberitahukan padanya aku mendapat beasiswa. dan ini tidak seperti marahnya yang biasa.
Namun kini ku dapat simpulkan apa arti raut wajahnya itu, “ndak cukuik nan apak kirim salamo ko nak?, paralu lu ang minta-minta beasiswa untuak kuliah.”
Aku tersentak dan tersadar dengan apa yang kulakukan, dengan aku mengajukan beasiswa ini, aku sudah tak menghargai apa yang diberikannya selama ini. Akupun sadar, Ia hanya ingin aku besar dan berhasil dengan keringatnya, bukan dengan pemberian dan belas kasih orang lain, apalagi didapat dengan meminta-minta.

Kamis, 18 Agustus 2011

tukang protes

tidak ada kebenaran hukum manusia yang bersifat mutlak, karna manusia akan selalu kesulitan bersikap objektif, akan selalu ada pertimbangan subjektif dan satu sudut pandang dalam pengambilan kebijakan dan penetuan keputusan dan hal ini juga lah yang melahirkan pemahaman akan pentingnya musyawarah, bersama-sama memutuskan kebijakan.
namun tidak stiap orang dan individu manusia menyadari ini, ia hanya terlahir sebagai tukang kritik, tukang protes dan bersikap seolah-olah tak satupun yang dilakukan oleh orang lain adalah benar.
dalam konteks ini,pemerintah sering menjadi bulan-bulanan, para "pengamat" yang super cerdas selalu saja melihat pemerintah sebagai objek sumpah serapah dan caci maki, jangankan mengapresiasi kebijakan dan hal yang dibuat pemerintah, untuk sekedar memandang dari sudut netral saja mereka ("pengamat") tidak akan pernah mau. yang mereka tau, pemerintah selalu salah, tidak sanggup menyelesaikan permasalahan dan begini dan begitu.
jika pemerintah melakukan kasalahan mereka merasa sebagai orang terdepan yang harus mengkritik, "seharusnya pemerintah begini....., seharusnya presiden melakukan ini..." merasa tidak cukup dengan itu semua, mereka biasanya akan menambahkan ini dan itu sehingga media massa merasa rugi kalau tidak memberitakannya.
di sisi lain, jika pemerintah melakukan dan menunjukkan sebuah kemajuan, mereka akan mengatakan "tokoh ini cari muka.. si anu sedang mencari dukungan publik" plus menambahkan ini dan itu sehingga pemerintah merasa terpojook.
lalu mana yang benar? masyarakat awam yang tidak tahu apa apa terpaksa disuapi dengan pemberitaan seperti itu akan menelan mentah-mentah. yang pada akhirnya akan muncul ketidakpercayaan publik pada pemerintah. dan si tukan protes akan meras sebagai pahlawan yang merasa telah mengungkap kebenaran, walaupun sebenarnya mereka sedang mengadu domba dan menghancurkan bangsa yang besar ini.
*coba sejenak kita melihat pemerintah dari sudut yang berbeda, sudut keberhasilan dan kemajuan barangkali agar kita sadar bahwa bangsa ini tidak hanya bisa terus terpuruk tapi juga bisa maju dengan optimisme kita semua, tentunya...

Minggu, 14 Agustus 2011

pengorbanan dan kekecewaan

kita sering ragu dengan apa yang dinamakan pengorbanan dan kekecewaan. karna kita sendiri belum mampu mengukur seberapa pengorbanan kita apalagi kekecewaan.
kita sering merasa sudah berkorban terlalu besar relatif dibanding apa yang akan dicapai, sehingga lahirlah kekecewaan. ataupun sebaliknya, kita sering kecewa dengan hasil yang diperoleh karna merasa pengorbanan kita belum optimal.
tulisan ini tidak akan mendefinisikan cara mengukur pengorbanan atau cara mengukur tingkat kekcewaan hanya saja ingin menyadarkan satu hal.
hanya satu hal..
selama kita masih mendefinisikan apa yang kita lakukan sebagai pengorbanan maka apapun hasilnya akan selalu mengecewakan, benarkah? tentu, dan akan akan berbeda jadinya ketika kita mendefinisikan apa yang kita lakukan sebagai kebutuhan atau sebagai sesuatu yang menyenangkan yang tidak diselingi dengan adanya ekspektasi keuntungan masa depan.
pemahaman mengenai pengorbanan mengajarkan segala sesuatunya akan dibalas, akan ada imbal balik dan akan ada hasil yang lebih besar, sehingga seberapa besarpun dan luar biasanya hasil yang ada hanya kekecewaan. karna pengorbanan dan hasil tidak akan pernah terukur dan ukurannya tidak konstan atau berbeda relatif diantara setiap orang.
memang sulit untuk mulai melakukan sesuatu tanpa ada harapan balasan atau biasa disebut dengan ikhlas. tapi tidak ada ada salahnya jika kita memulai untuk tidak mengukur-ukur apa yang kita korbankan.

Minggu, 07 Agustus 2011

formalitas tidak lagi mewakili substansi

tujuan awal sebuah formalitas, adalah mewakili dan memenuhi makna dari substansinya. dulu. kita menemukan bahwa surat menyurat, alur birokrasi dan regristrasi menjadi contoh besar sebuah formalitas yang memiliki substansi dan makna besar profesionalitas, formalitas yang mengikutinya memastikan bahwa makna besar profesionalitas tersebut terjamin dan tercapai. pemenuhan kebutuhan akan kelngkapan administrasi, kemudahan menjalankan sistem dan beberapa tujuan lainnya yang menjadikan latar belakang lahirnya formalitas bernama regristrasi, birokrasi dan sejenisnya.
substansi mengilmhami lahirnya sistem yang utuh dan terstruktur yang memakilinya yang bernama formalitas, dan berlatar belakang itulah, maka formalitas tidak akan pernah berdiri sendiri sebagai mana kemampuan sebuah substansi untuk berdiri sendiri. tujuan dan maksud utama-lah yang dimaknai sebagai substansi.
saya teringat dengan sebuah cerita, dizaman perang Vietnam (kalau tidak salah), pemberontak dikala itu membunuhi semua warga sipil yang menggunakan kaca mata, untuk menghapuskan intelektualitas dan menjadikan pemberontak sebagai penguasa, kenapa demikian? karna si pemberontak masih yakin (atau bisa jadi tertipu) bahwa setiap yang berkaca mata adalah orang cerdas yang rajin baca buku, karna mereka yakin dibalik kaca mata itu tersimpan sebah substansi bernama ilmu dan kecerdasan. dan itu dulu.
kini, tak seorangpun yakin dengan pernyataan bahwa "setiap yang berkaca mata adalah orang cerdas". karna substansi kaca mata sudah jauh bergeser dari yang dulunya sebagai alat bantu penglihatan, kini menjadi mode dan tren budaya. yang tidak mengalami gangguan penglihatan pun memakai kacamata, dengan alasan tren dan budaya. lalu apa jadinya jika pemberontak vietnam hadir lagi hari ini??
kita sering terjebak pada pemikiran bahwa formalitas akan selalu mewakili substansi padahal sebenarnya tidak, betapa banyak formalitas yang lahir saat ini dengan keraguan apa substansi dibaliknya.
tak bodoh ketika kita mau berfikir kecil, misalnya, kenapa kita harus pakai dasi?? atau kenapa kita harus bersepatu kulit??, ketika akan kuliah atau sekolah atau pertemuan penting. karna sebnarnya, tanpa dua hal itupun, tidak ada tujuan pembelajaran, tujuan kuliah atau tujuan presentasi terkurangi. saya salut dengan Ahmadinejad yang tidak pernah mau pakai dasi, dalam pertemuan sepenting apapun, (mungkin) karna Ia tahu,   dasi tidak memiliki substansi apa apa.
semua formalitas bodoh itu lahir dari sikap ikut-ikutan dan unconfidence, yang terus dibenarkan oleh zaman, tanpa ada yang mau memprotesnya.. lucu... sangat lucu...

Kamis, 04 Agustus 2011

ilmu

Salah satu yang membedakan antara ibadah dan amal yang diterima dengan yang tidak diterima adalah ILMU. apapun ada ilmunya. sebuah ibadah bisa saja menghasilkan letih dan kesia-siaan tanpa ada landasan pengetahuan mengenai pengamalan ibadah tersebut, dan begitu pula sebaliknya. ilmu menjadikan ibadah benilai lebih. tidak akan pernah sama antara orang yang berupaya mencari ilmu dengan orang yang malas mencarinya.
ilmu pengetahuan mengenai sebuah perbatan dan ibadah melahirkan pemahaman yang utuh mengenai tatacara, manfaat dan tujuan dari ibadah dan perbuatan. percuma saja sholat jika kita tidak pernah tahu ada apa dibalik sholat, apa tujuan sholat dan bahkan apa arti dibalik bacaan sholat yang kita baca.
terkait contoh ini, kami perah membaca, bagaimana Allah akan mengabulkan permintaan kita, jika kita sendiri tidak tahu apa makna doa yang kita baca, kita sendiri tidak paham dengan apa yang kita baca. jangan jadikan ibadah hanya sebagai ritual pelepas kewajiban semata, ada makna mendalam didalamnya, jika kita mau sedikit membaca terjemahan atau arti bacaan shalat. karena substansi dari shalat sendiri adalah untuk kita, karena Allah yang maha agung tidak pernah sedikitpun butuh dengan shalat kita, shalat merupakan bentuk penghambaan dan permohonan kita selaku hamba pada sang Khalik (pencipta). jika ibadah hanya lahir dari sikap ikut-ikutan tanpa pemahaman, tentunya bukanlah hal sulit bagi Allah untuk menolaknya.
begitu juga dengan perbuatan (amal), tanpa ilmu, perbuatan dan niat baik belum tentu akan menghasilkan sesuatu yang baik. sederhana sekali contohnya, apa yang akan terjadi jika seseorang yang berniat baik untuk menolong orang yang sedang sakit tanpa punya pengalaman pengetahuan mengenai pengobatan (dalam hal ini bisa jadi pendidikan dokter)?, bukan hanya sia-sia, bahkan bisa jadi si-sakit akan lebih menderita. namun tentunya hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak berbuat baik..
ilmu melandasi amalan dan ibadah, jangan sampai ibadah dan amalan kita menjadi sia-sia hanya karna kita malas untuk terus memperbaharui pengetahuan kita setiap hari..
wallahu a'lam bishawab..

Senin, 01 Agustus 2011

nikmat yang terlupakan

waktu dan kesehatan adalah dua nikmat yang disebutkan Nabi sebagai nikmat yang sering terlalaikan dan baru terasa manfaatnya saat kita sudah kehilangannya. orang yang sedang memiliki waktu senggang sering bingung dengan apa yang akan dilakukan dan penyesalan muncul dikemudian hari, "kenapa ga saya kerjakan dari kemaren-kemaren ya?" atau kita baru sadar nikmatnya sehat, saa kita sedang sakit. dan dalam keadaan sehat kita sering lupa memikirkan dan merenungi apa yang kita rasakan saat kita sedang sakit, jadi wajar saja jika ada sebuha aksioma yang mengatakan, "kesehatan adalah mahkota yang dipakai oleh orang yang sehat yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang sakit."
kita sering tidak merasakan manfaat sesuatu sebelum kita kehilangannya, ya begitulha manusia, jika diberi nikmat ia sombong, jika diberi musibah ia mengeluh..

Kamis, 28 Juli 2011

konsiten dan komitmen

Yang menjadikan perbuatan baik bernilai lebih adalah ke konsitenan dan ke komitmen, tanpa dua itu, perbuatan baik hanya akan terasa biasa-biasa saja. konsiten bermakna kesinambungan dan komitmen bermakna keseriusan. namun memang tidak cukup dimaknai sebatas pada dua makna itu.
perbuatan baik yang kecil yang dilakukan terus menerus akan lebih terasa manfaatnya dibanding perbuatan baik yang sekali saja walaupaun ukuran perbuatan baik tersebut besar. namun tetap yang terbaik adalah perbuatan baik yang ukurannya (kualitasnya) besar yang dilakukan terus menerus.
sebuah konsisten terbukti dengan adanya kesinambungn dan kontinuitas, dilakukan terus menerus dan tidak kondisional atau bahkan tidak melenceng pada riya dan cari muka, karakteristik konsiten akan lahir dari niat yang ikhlas, perbuatan baik yang dilakukannya tidak harus disaksikan oleh orang lain. "wa kafaa billahi syahida".
komitmen lahir dari keseriusan dan keinginan yang bersih dan lurus. komitmen menjadikan sipelaku kebaikan fokus pada tujuan kebaikannya, tidak ragu dengan kebaikan yang dilakukan dan tidak mudah tergoda dengan hal lain yang akan mengganggu pencapaian akhir dari perbuatan baiknya, bekerja sungguh-sungguh dan tentunya tidak hanya berorientasi pada hasil.
mari kita perbaiki perbuatan baik kita dan kita tambahkan konsisten dan komitmen bersamanya.

Kamis, 14 Juli 2011

Adilnya Allah

Assalamualaikum,
memiliki apa yang tidak kita miliki, dan mampu dimiliki oleh orang lain terkadang membuat kita berfikir " ada yang salah dengan saya", atau " kenapa saya tidak bisa?", atau bahkan " Tuhan tidak adil".
semoga saja kita tidak memiliki pemikiran yang terakhir.
apa yang kita miliki, adalah apa yang menurut Allah akan kita perlukan, apa yang menurut Allah akan memberikan kebaikan kepada kita, dan Allah tentunya lebih tahu dengan apa yang kita butuhkan dibanding kita sendiri ( Dia lah yang menciptakan kita, bukan?)
tapi terkadang kita sering memandang setiap kelebihan yang dimiliki oleh orang lain sebagai bentuk "pilih kasih"nya Allah pada Hambanya, sehingga sering muncul pernyataan ketiga tadi.. kita memandang sesuatu berdasarkan pemikiran kita, kita memandang Allah lebih memperhatikan orang lain dari pada diri kita.
ketika hal ini lahir dalam pemikiran kita atau bahkan sempat terlontar melalui doa dan perbuatan kita (naudzubillah) maka kita seharusnya sadar bahwa "ada yang salah dengan saya", "ada yang salah dengan keimanan saya", " ada yang salah dengan pemahaman saya kan ke Maha Adilnya Allah".

Allah yang maha Adil dan Maha Tahu dengan apa yang kita butuhkan,
yang kita lakukan hanyalah
1. Berdoa (Albaqoroh 186)
2. Berusaha (Al Jumuah 10)
3. dan Berbaik sangka kepada Allah tentunya.

Minggu, 05 Juni 2011

Menilik fenomena saat ini, membuat benchmark dan tergila gila..

Menilik fenomena saat ini, membuat benchmark dan tergila gila..
Kenapa kita sibuk meniru orang lain, kita dilahirkan dengan keunikan yang hanya kita pribadi yang memilikinya. Meniru dan berusaha menjadi orang lain hanya membuat kita lelah dan selalu dikejar-kejar mode, takut ketinggalan dan merasa tidak percaya diri dengan apa yang dimiliki,
Kemungkinan pertama bagi orang orang yang seperti ini adalah, orang yang tidak memiliki identitas dan merasa perlu dan penting untuk meniru identitas orang lain, tidak memahami keunikan yang special yang Allah berikan hanya pada dirinya. Ia merasa tidak percaya diri dengan apa yang dimiliki atau dengan apa yang dilakukannya. Ia merasa apa yang dilakukan oleh orang lain sebagai budaya acuan yang lebih diterima oleh lingkungannya, orang orang seperti ini cenderung berusaha menarik perhatian orang lain dengan melakukan hal hal yang dianggap keren. Sebuah contoh kecil, apa sih substansinya memasang gelang karet ditangan, apakah akan berpengaruh pada kesehatan? Akan menjadikan lebih bermanfaat? Sepertinya tidak ada.. tapi semuanya lebih cenderung pada meniru apa yang dipakai oleh seseorang atau sekelompok figur masyarakat, merasa penting untuk meniru identitas itu dan merasa  tertinggal jika tidak mengikutinya. Itu baru gelang karet, belum gaya rambut, pakaian, celana dan banyak lagi.., lalu jika pada suatu hari nanti figur massa ini memperkenalkan mode baru, ya itulah benchmark nya, jangan ditanya, etis tidak etis atau benar atau tidak benar, acuan benar dan salah sudah mengacu pada mode dan tidak mode.

Selasa, 12 April 2011

ku coba potret nyawa-nyawa yang bergantungan
pada pohon-pohon itu
ada satu nyawa yang menyapa
tapi yang lain diam
ia tersenyum
memandang jiwa yang mati dihadapnya

*ditulis tahun 2008

Kamis, 07 April 2011

puisi

aku berdiri dengan terhuyung
merekam jejak napas
menghirup senja-senja yang tertinggal
lari dan menerawang terlindas roda-roda
yang terus berpacu dan menderu
Tanpa teringat api yang mulai padam
                ada sebuah sajak yang tak akan pernah aku ceritakan padamu
kini kan ku bacakan dengan lidah ini
harus terus mengalair karna hujan tak pernah teduh








disini ada gelap menanti
jiwa berkeping
terpecah dalam remah-remah kecil
tapi ada dosa yang tertinggal

bolehkah aku maju selangkah
menjejak dan menghirup
klise-klise masa lalu
yang seharusnya sudah mati
dan kini tanpa ada yang terpisah

bolehkah aku punguti kepingan pagi
yang berlalu
dan kepingan senja yang menjelang..


*kedua puisi ini ditulis pada tahun 2008-an,

Selasa, 08 Maret 2011

sistem ajar berbasis karya

Ada beberapa fakta yang menyedihkan bahwa sistem pendidikan yang diharapkan melahirkan generasi yang jujur dan tangguh menghadapi segala permaslahan justru malah menciptakan generasi yang tidak prnah optimis dengan apa yang dilakukan dan munculnya pemahaman bahawa Nilai adalah standar baku dalam pengevaluasian hasil belajar, kami berfikir ada banyak dampak lain yang dihasilkan oleh sistem ini, disampinhg hal hal diatas.
Beberapa kelamahan sistem pendidikan yang diimplementasikan pada hari ini adalah, sistem pengevalusian hasil belajar ebasis point dan penilaian , hal ini tentunya akan menciptakn asumsi dalam pemikiran kita semua (tidak hanya pesrta didik tetapi juga orang tua, guru dan semua stake holder pendidikan)bahwa tujuan akhir dari pendidikan adalah “ nilai”. Sehingga setiap tahap pendidikan peserta ajar selalu disuapi dengan metode-metode mendapatkan nilai baik, dan selalu diberondong dengan kecaman-kecaman jika mendapat nilai Buruk, tidak hanya dari orang tua tetapi juga dari guru) miris sekali memperhatikan hal ini. Ditambah lagi dengan “dukungan “ dari bebagai pihak yang menjadikan  “nilai” sebagai acuan utama dalam pengambilan keputusan apapun, misalnya untuk bekerja dan memperoleh kesempatan kerja.
Sistem seperti ini juga menghasilkan sikap mental yang sangant tidak baik, karna peserta didik hany erorientasi pada nilai sehingga apapun yang dilakukannya hanya pada apa yang bias membuat nilainya Bagus, mencontek contoh kecil saja, bahkan jika ditilik substansi dari tujuan pendidikan, belajar keras saat akan ujian tes pun dapat diaktegorikan tindakan yang melenceng dari tujuan awal pendidikan, bukankah tujuan akhir dari sitem pendidikan adalah menghasilkan peserta didik yang mampu mengimplementasikan apa yang didapatkanya dalam proses pendidikan dan bukan Nilai. Untuk sistem pendidikan saat ini, nilai sedikitpun tidak bias menjadi alat pengukur yang representative untuk mengukur seberapa “implementatif” pengetahuannya atau ilmunya. Nilai juga tidk bias mengukur kemampuan spesifik dari seorang individu peserta ajar.
Alasan ketiga adalah pengukuran yang dilakukan lebih sering menggunakan media yang sama sekali tidak mencerminkan dasar yang baik, menjawa pertanyaan teori
Sistem pendidikan berbasis karya begitu kami menyebut solusi dari permasalahan sistem pendidikan selama ini, penilaian yang dilakukan bukan hanya pada kemapuan menjawa soal- soal toritis tetapi berdasarkan apa yang mampu “dibuat” oleh seorang pesertadidik dengan apa yang diperolehnya dalam bangku pendidikan, berdasarkan seberapa penerapan milmu yang diperolehnya dalam pendidikan. Dalam hal ini Sekolah Menengah Kejuraun sudah mendekati sistem ini.
Dalam sistem ini metode ajar  yang digunakan jauh dari penyampaian materi dan menjawa soal- soal latihan. Tapi guru dan peserta didik dituntut untu mampu bersama mengaplikasikan teori yang ada pada proyek bersama dan mengambil hal-hal baru yang ditemukan, bahakan bukan bagaimana mengaplikasikan teori tapi bagaimana menjembatani lahirnya teori aru dari proyek tersebut, kedengarannya mungkin sangat eksakata, tapi pada dasarnya ini sangat aplikatif dan sangat mudah diimplementasikan karna logikanya semua ilmu beujung pada implementasi kehidupan.



Kamis, 24 Februari 2011

baru buat akun blogger..

sebenarnya sudah lama pengen aktif di blog, tapi ternyata, ga bisa optimal.. =(. dan sekarang baru terealisasi dan mencoba lagi..
semoga konsisten..
o iya, buat yang kebetulan mampir disini, mungkin blog ini biasa-biasa aja, silahkan dibaca dan dilihat..
semoga tertarik dan jangan lupa meninggalkan jejak komen ya...
 masih perlu banyak belajar, dan masih perlu banyak jam online..
^_^v

kehati-hatian (wara')

kenapa kita meski disibukkan dengan pembahasn yang tidak penting, dan hal hal yang jelas-jelas subhat, jika memang kita ragu dengan hukum suatu kegiatan muamalah, kenapa tidak ditinggal kan saja, karna salah satu ciri dari kesempurnaan berislam adalah sikap wara', yaitu menjauhi hal hal yang meragukan dan tentunya juga hal-hal yang sudah jelas keharamannya,
kenapa kita meski disibukkan dengan perdebatanmengenai hukum rokok, rebonding, dan foto prewedding? semuanya jelas ke subhatannya, dari pada kita terjebak dalam perdebatan yang tidak berujung,kenapa kita tidak meninggalkan saja? toh semua sudah jelas tidak ada manfattnya? baik dari sisi kehidupan dunia, bahkan akhirat bukan?
apa sih yang kita dapatkan dengan merokok? yang jelas kita membayar mahal untuk menambahkan penyakit dalam tubuh yang dititipkan Allah pad kita ini,. betapa zalimnya kita
jika dilihat dari beberapa sisi, setidaknya ada dua alasan kenapa kita suka bermain main dengan hal yang subhat,
pertama, memang ada alasan kepentingan tertentu dibalik debat debat panjang hal hal subhat dan tidak bermanfaat, terutama kepentingan ekonomi, contoh kecil, rokok, ketika muncul isu-isu merokok diharamkan oleh MUI, banyak sekali pihak yang menentang, terutama perusahaan perusahaan rokok, dengan dalih melindungi karyawan dari pemecatan, mereka berlindung dibalik punggung para buruhnya untuk tetap menginjeksikan racun pada penduduk bangsa ini. Termasuk membangga-banggakan rokok sebagai sumber pendapatan terbesar Negara melauli cukai. Seolah olah bangsa ini hidup dengan cukai yang mereka bayarkan, sehingga muncul anggapan pada mayoritas masyarakat (terutama perokok) bahwa jika sampai pabrk rokok ditutup maka akan terjadi keguncangan perekonomian bangsa ini. Tapi benarkah, mari sama-sama kita lihat faktanya. Rokok sebagai sumber utama berbagai penyakit, tidak ada yang menolak pernyataan ini, kita semua setuju dengan hal ini, bahkan para perokok dan produsen rokok sekalipun, sehingga semua perusahaan rokok setuju untuk menuliskan “merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin” pada kemasan rokoknya, dan tentunya rokok menjadi penyebab penyakit yang mendominasi penyebab penderitaan pasien pasien yang ada dirumah sakit. Pemerintah mengeluarkan subsidi untuk fasilitas kesehatan setiap tahunnya dan kita tahu jumlahnya tidak sedikit, dan tentunya juga ada alokasi subsidi ini untuk para pasien dengan penyakit yang disebabkan oleh rokok, dan faktanya, setelah diukur, subsidi yang digunakan untuk mengobati pasien pasien korban rokok tersebut jauh lebih besar dari cukai yang dihasilkan dari produksi rokok dinegara ini. Sadar?. Ya inilah faktanya, masihkah kita yakin dengan manfaat merokok. Tapi barangkali fakta ini tidak ada artinya bagi para produsen rokok yang merasa sudah menghapus dosanya dengan CSR nya, pendidikan, olah raga dan sebagainya, lucu, bahkan sangat lucu dan juga fakta ini tidak akan berguna bagi para perokok yang sudah terlanjur dikuasai oleh nikotoin yang menumpuk diparu-parunya. Efek nikotin ternyata tidak hanya pada gangguna kesehatan tapi juga pada otak, sehingga para pecandu rokok mampu menelurkan alasan alasan dan logika-logika bodoh. Tambah lucu.. dan kita baru membahas satu contoh, rokok, belum yang lain, belum dengan rebonding, belum foto prewedding.. ha..ha..
hal kedua yang menjadi alasan orang orang yang suka bermain main dengan hal –hal subhat adalah kebiasaan berdebat, atau suka protes tepatnya, orang orang seperti ini biasanya memandang setiap kebijakan sebagai hasil dari kebodohan orang lain, walaupun sebenarnya orang se[erti ini mampu melihat hal positif dari kebijakan tersebut, namun ia tidak senga bila tidak memprotes kebijakan baru, selalu ada nilai negative dari kebijakan kebijakan. Hobi berdebat dan memposisikan diri sebagai oposisis pembaut kebijakan, selalu berasumsi bahwa pembuat kebijakan adalah kumpulan koruptor yang hanya berfikir untuk kepentingan sendiri, benarkah? Orang orang seperti ini tak bisa dilawan dengan fakta, apalagi agama (landasan FIqh), orang orang seperti ini melandasi segala opininya dengan logika, baik dan benar secar ukuran otak dan pemikiran, memojokkan pihak lain dan memihak pada pihak lainnya. Dan mujur saja kalau mereka bukan sedang menjilat pada pihak tertentu, karena mayoritas orang seperti ini sedang berupaya menarik perhatian pihak tertentu (menjilat), atau minimal sedang mencari popularitas..
kembali ke topik utama, hal hal subhat (meragukan) sering menjadi bahan perdebatan karena memang batasan antara benar, salah dan halal haram ada pada hal hal seperti ini, namun seperti disimpulkan diatas, dalam hal ini seorang muslim harus mengambil jalur aman dengan bersikap konservatif, atau tepatnya berhati hati. Sikap nyatanya adalah dengan menghindari dan tidak melakukan hal hal subhat tersebut, bagi seorang muslim, hal hal subhat akan lebih baik bila dianggap haram saja, terkait dengan kemungkinan haramnya hal tersebut. Jika diambil permisalan dengan bersih dan tidak bersih pada makanan, apa yang akan kita lakukan jika sepotong roti yang sedang kita makan jatuh kelantai?, secara fisik tidak terlihat makanan tersebut kotor? Mayoritas kita akan lebih memilih untuk tidak memakan roti tersebut, alasan utamanya adalah keraguan apakah makanan tersebut masih benar benar-bersih?, hanya sedikit yang mau mengambil risiko dengan berasumsi makanan tersebut masih bersih, benarkan demikian??
Lalu apa bedanya dengan halal-haram, apakah kita mau mengambil risiko dibakar di neraka dengan asumsi asumsi (logika) bahwa merokok, rebonding dsb itu halal??? 

kehati-hatian (wara')

kenapa kita meski disibukkan dengan pembahasn yang tidak penting, dan hal hal yang jelas-jelas subhat, jika memang kita ragu dengan hukum suatu kegiatan muamalah, kenapa tidak ditinggal kan saja, karna salah satu ciri dari kesempurnaan berislam adalah sikap wara', yaitu menjauhi hal hal yang meragukan dan tentunya juga hal-hal yang sudah jelas keharamannya,
kenapa kita meski disibukkan dengan perdebatanmengenai hukum rokok, rebonding, dan foto prewedding? semuanya jelas ke subhatannya, dari pada kita terjebak dalam perdebatan yang tidak berujung,kenapa kita tidak meninggalkan saja? toh semua sudah jelas tidak ada manfattnya? baik dari sisi kehidupan dunia, bahkan akhirat bukan?
apa sih yang kita dapatkan dengan merokok? yang jelas kita membayar mahal untuk menambahkan penyakit dalam tubuh yang dititipkan Allah pad kita ini,. betapa zalimnya kita
jika dilihat dari beberapa sisi, setidaknya ada dua alasan kenapa kita suka bermain main dengan hal yang subhat,
pertama, memang ada alasan kepentingan tertentu dibalik debat debat panjang hal hal subhat dan tidak bermanfaat, terutama kepentingan ekonomi, contoh kecil, rokok, ketika muncul isu-isu merokok diharamkan oleh MUI, banyak sekali pihak yang menentang, terutama perusahaan perusahaan rokok, dengan dalih melindungi karyawan dari pemecatan, mereka berlindung dibalik punggung para buruhnya untuk tetap menginjeksikan racun pada penduduk bangsa ini. Termasuk membangga-banggakan rokok sebagai sumber pendapatan terbesar Negara melauli cukai. Seolah olah bangsa ini hidup dengan cukai yang mereka bayarkan, sehingga muncul anggapan pada mayoritas masyarakat (terutama perokok) bahwa jika sampai pabrk rokok ditutup maka akan terjadi keguncangan perekonomian bangsa ini. Tapi benarkah, mari sama-sama kita lihat faktanya. Rokok sebagai sumber utama berbagai penyakit, tidak ada yang menolak pernyataan ini, kita semua setuju dengan hal ini, bahkan para perokok dan produsen rokok sekalipun, sehingga semua perusahaan rokok setuju untuk menuliskan “merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin” pada kemasan rokoknya, dan tentunya rokok menjadi penyebab penyakit yang mendominasi penyebab penderitaan pasien pasien yang ada dirumah sakit. Pemerintah mengeluarkan subsidi untuk fasilitas kesehatan setiap tahunnya dan kita tahu jumlahnya tidak sedikit, dan tentunya juga ada alokasi subsidi ini untuk para pasien dengan penyakit yang disebabkan oleh rokok, dan faktanya, setelah diukur, subsidi yang digunakan untuk mengobati pasien pasien korban rokok tersebut jauh lebih besar dari cukai yang dihasilkan dari produksi rokok dinegara ini. Sadar?. Ya inilah faktanya, masihkah kita yakin dengan manfaat merokok. Tapi barangkali fakta ini tidak ada artinya bagi para produsen rokok yang merasa sudah menghapus dosanya dengan CSR nya, pendidikan, olah raga dan sebagainya, lucu, bahkan sangat lucu dan juga fakta ini tidak akan berguna bagi para perokok yang sudah terlanjur dikuasai oleh nikotoin yang menumpuk diparu-parunya. Efek nikotin ternyata tidak hanya pada gangguna kesehatan tapi juga pada otak, sehingga para pecandu rokok mampu menelurkan alasan alasan dan logika-logika bodoh. Tambah lucu.. dan kita baru membahas satu contoh, rokok, belum yang lain, belum dengan rebonding, belum foto prewedding.. ha..ha..
hal kedua yang menjadi alasan orang orang yang suka bermain main dengan hal –hal subhat adalah kebiasaan berdebat, atau suka protes tepatnya, orang orang seperti ini biasanya memandang setiap kebijakan sebagai hasil dari kebodohan orang lain, walaupun sebenarnya orang se[erti ini mampu melihat hal positif dari kebijakan tersebut, namun ia tidak senga bila tidak memprotes kebijakan baru, selalu ada nilai negative dari kebijakan kebijakan. Hobi berdebat dan memposisikan diri sebagai oposisis pembaut kebijakan, selalu berasumsi bahwa pembuat kebijakan adalah kumpulan koruptor yang hanya berfikir untuk kepentingan sendiri, benarkah? Orang orang seperti ini tak bisa dilawan dengan fakta, apalagi agama (landasan FIqh), orang orang seperti ini melandasi segala opininya dengan logika, baik dan benar secar ukuran otak dan pemikiran, memojokkan pihak lain dan memihak pada pihak lainnya. Dan mujur saja kalau mereka bukan sedang menjilat pada pihak tertentu, karena mayoritas orang seperti ini sedang berupaya menarik perhatian pihak tertentu (menjilat), atau minimal sedang mencari popularitas..
kembali ke topik utama, hal hal subhat (meragukan) sering menjadi bahan perdebatan karena memang batasan antara benar, salah dan halal haram ada pada hal hal seperti ini, namun seperti disimpulkan diatas, dalam hal ini seorang muslim harus mengambil jalur aman dengan bersikap konservatif, atau tepatnya berhati hati. Sikap nyatanya adalah dengan menghindari dan tidak melakukan hal hal subhat tersebut, bagi seorang muslim, hal hal subhat akan lebih baik bila dianggap haram saja, terkait dengan kemungkinan haramnya hal tersebut. Jika diambil permisalan dengan bersih dan tidak bersih pada makanan, apa yang akan kita lakukan jika sepotong roti yang sedang kita makan jatuh kelantai?, secara fisik tidak terlihat makanan tersebut kotor? Mayoritas kita akan lebih memilih untuk tidak memakan roti tersebut, alasan utamanya adalah keraguan apakah makanan tersebut masih benar benar-bersih?, hanya sedikit yang mau mengambil risiko dengan berasumsi makanan tersebut masih bersih, benarkan demikian??
Lalu apa bedanya dengan halal-haram, apakah kita mau mengambil risiko dibakar di neraka dengan asumsi asumsi (logika) bahwa merokok, rebonding dsb itu halal??? 

apa manfaatnya

Pertanyaan pertama, jika ada seorang mahasiswa (khususnya pria) masuk kuliah dengan terkantuk-kantuk, mata sayu dan rambut acak-acakan karna terlambat bangun, bisakah anda menebak apa yang dilakukannya semalam?
Tepat!!!, nonton bola.. tim kesayangan akan berhadapan dengan lawan tangguh dimusim ini
Pertanyaan kedua, berapa persen dari mereka yang menyempatkan atau secara kasar kebetulan teringat untuk shalat malam ketika menonton pertandingan bola tersebut? Bisa diperkirakan dengan mudah bukan..
Dan yang lebih memiriskan lagi ada berapa persen yang memang meniatkan bangun malam untuk shlat tahajud dan qiyamulail lainnya??
Sekarang bandingkan persentasenya????
Kita sudah terhipnotis dengan budaya budaya yang awalnya memang positif olah raga tapi kini menjadi sarana pembodohan dan pengalihan terhadap nilai-nilaia ibadah dalam islam, mereka mencoba membuat kita lalai dengan Allah dan jati diri kita sebagai muslim..
Dengan dalih hobi, mereka berupaya menyedot perhatian dan kekakuman kita umat muslim dengan budaya-budaya jahiliah, penulis akan coba menalarkan “manfaat” dari menonton bola:
Apakah dengan menonton bola, tubuh dan raga si penonton akan sehat dan bugar layaknya si pemain bola? Penulis merasa belum ada penelitian yang menyebutkan manfaat olah raga dari menonton pertandingan sepak bola, apa lagi sampai begadang, justru penulis merasa hal sebaliknya yang akan terjadi, tidak hanya fisik, tetapi juga jiwa akan sangat terganggu dengan kebiasaan begadang ini, kurang tidur, dan hasilnya seperti yang penulis sampaikan diawal tulisan, toh yang jadi korban adalah kembali, kita.
Dan kalau mau ditilik secara sederahana saja, event-event sepak bola sudah semakin jaiuh dari unsure olah raga dan memiliki kecenderungan pada dunia bisnis, sebut saja iklan, transfer pemain dan jual beli klub, tidak hanya itu, jiwa olah raga dari event-event sepak bola sudah ternodai oleh nafsu-nafsu popularitas, gagah-gagahan dan juga persaingan yang bahkan mengundang tindakan anarkis, baik dilapangan oleh pemain ataupun diluar, seperti kericuhan dan bentrokan supoorter yang begitu fanatiknya, melebihi fanatisme terhadap perjuangan nasionalis . coba tebak siapa lagi yang menjadi korban? Kita!!!
Dampak lain, terjerumusnya kita dalam fanatisme sempit yang mengkotak-kotakan kita, klub supporter lah namanya.. coba kita berpikir lebih dalam apakah ada sisi positifnya? Baik dari sisi materi ataupun dari sisi non materi? Yang ada hanya kita terpecah belah dengan fanatisme klub sepakbola..

kenapa seperti ini

Iniah negeri kita.. jangan malu, karna inilah realitanya…
Apa sebenarnya yang kita inginkan disini? Lupakah kita dengan cita-cita besar para pendiri bangsa ini, atau kita justru pura-pura menjadi korban yang terjebak dengan segala kebobrokan bangsa ini.. lalu merasa tidak bersalah dan tidak ingin ikut bertanggung jawab menyelamatkan kembali negeri ini, atau jangan jangan kita justru adalah bagian dari sistem yang memanfaatkan kebobrokan negeri ini, kebobrokan moral dan tidak adanya nilai-nilai etis yang dipahami oleh anak negeri ini.
Menjadi bagian dari bangsa yang besar ini adalah sebuah kesyukuran, ternyata negeri kita ini adalah negeri dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, negeri dengan generasi islamnya menjadi harapan bagi seluruh umat islam menjadi penggerak kembalinya kejayaan islam (amiiin).
Tapi apa permasalahannya ketika justru negara ini menjadi salah satu negeri terkorup di dunia, menjadi negeri dengan pemuda yang tidak bermoral. Apakah islam yang salah??? TIDAK… karna memang penduduk negeri yang mayoritas islam ini, Al Quran dirumahnya sudah dipenuhi dengan abu, mukenanya masih wangi dan bersih, sajadahnya masih baru dan buku-buku hanya menjadi pajangan ruangan tamu… (lucu) lalu mereka serta merta menyalahkan sistem pendidikan, menyalahkan pemerintah yang korup sementara mereka sendiri adalah manusia yang tidak pernah mengerti arti kejujuran, masih mencontek saat ujian, mengurangi timbangan, memakan riba, percaya takhayul dan kufarat lainnya.. (Islamkah yang salah??)
Coba tanya diri pribadi, apakah kita sudah menjadi generasi yang sudah berupaya menjadi pelaksana syariat islam, atau justru kita ada pada garda depan tukang protes kebijakan pemerintah,menjadi orang yang merasa kehidupan agama itu terpisah dengan politik, ekonomi, sosial budaya (sekuler) dan sebagainya atau menjadi pejuang demo bayaran dan menjadi orang yang ujiannya mencontek, lalu salahkah pembuat kebijakan jika orang yang akan menjalankan kebijakan adalah orang yang tidak pernah percaya dengan pembuat kebijakan dan pada ujungnya menjadi lingkaran setan kebobrokan negeri ini , kita hanya sibuk dengan kekuasaan, sibuk dengan uang dan sibuk dengan ijazah, pantas saja setiap kebijakan tidak pernah benar, karna orang yang memprotesnya juga tidak benar tapi merasa paling benar (tambah lucu)
Korupsi bukan hanya masalah pemerintahan, ia ada di manapun, tak terkecuali dikampus, korupsi hadir ketika ujian dilaksanakan, korupsi juga hadir saat melihat jimat… jadi pantaskah kita merasa kritikus pemerintahan korup ketika ujian kita masih mencontek atau ketika kita masih pakai jimat..
Apakah islam pernah mengajarkan umatnya untuk tidak jujur, islam juga tidak pernah mengaarkan kita umatnya untuk “mengakali” ujian, atau pernahkah islam mengajarkan kita untuk berorientasi pada ijazah semata?, islam mengajarkan kita untuk mencari ilmu, bukan mencari ijazah, gelar dan sebagainya..
Lalu jika negeri ini menjadi nominasi negeri terkorup, apakah yang salah adalah Islam? Atau kita umat Islam yang tidak pernah mau tau lagi dengan syariat Islam???
   

benar atau salah tergantung siapa yang berkuasa..

Benar dan salah sangat relatif
Sangat setuju dengan pernyataan diatas, benar dan salah sesuatu itu sangat tergantung dari sudut pandang dan bagaimana penyikapan terhadap objek yang akan dinilai kebenaran atau kesalahannya.
Namun yang ingin dibahas kali ini adalah, bahwa benar dan salah itu tergantung pada siapa yang berkuasa. Dan sangat tergantung lagi dengan pola pikir penguasa tersebut.
Tidak perlu dalam sebuah negara dan bangsa, kita ambil contoh kecil dalam sebuah kelas mata kuliah saja, siapa yang berkuasa?? Siapa lagi kalau bukan dosen (dan saya yakin pembaca pun sangat setuju dengan pernyataan ini), sehingga dosenlah yang akan menetukan benar atau salahnya segala sesuatu yang terjadi selama perkuliahan, termasuk benar atau salahnya jawaban mahasisiwa saat ujian, sepandai apapun mahasiswa menjelaskan bahwa jawabannya adalah benar, namun jika dosen yang sudah menyalahkan, sangat kecil kemungkinan jawaban itu akan dibenarkan atau dikoreksi. Dan termasuk hal- hal lain dalam perkuliahan, benar atau salah pendapat seorang mahasiswa dalam sebuah seminar atau presentasi tergantung juga dengan pola pikir dan pendapat dosen.
Beberapa alasan yang menyebabkan hal ini terjadi diantaranya adalah, pertama, adanya asumsi bahwa dosen lebih cerdas dibanding mahasiswa ,kita akan mengakui bahwa dosen lebih mengetahui dan berpengalaman dibanding mahasiswa, tapi untuk pernyatan bahwa dosen lebih cerdas dibanding mahasiswa itu kurang dapat disepakati. Pola pikir seorang dosen tidak hanya sangat dipengaruhi luasnya pengetahuan , pengalaman dosen, dan banyaknya ilmu yang dimiliki, tetapi juga dipengaruh lingkungan dosen, baik selama masa studinya dahulu , sikap dosennya terdahulu terhadap sang dosen dan lingkungan kemajuan teknologi dimasanya dahulu.
Sebuah contoh sederhana, seorang dosen senior (sering juga diartikan dosen yang sudah lama mengajar, atau dosen yang sudah tua) sering berpendapat bahwa kuliah tutorial dan langsung menggunakan bahasa verbal adalah sistem perkuliahan terbaik, tanpa presentasi dan slide-slide power point dan mohon maaf bahkan ada sebagian dosen senior itu yang beranggapan pengguana teknologi proyektor( presentasi) adalah sistem malas, dan tidak efektif. Benarkah?? Ini adalah ukuran benar salah yang dianut seorang dosen senior. Berbeda lagi dengan pemikiran seorang dosen junior mengutamakan pengguanaan sarana teknologi dengan semaksimal mungkin tentunya akan sedikit kurang setuju dengan pihak-pihak yang anti dengan teknologi, menganggap pemikiran seperti itu adalah pemikiran kolot yang salah. Belum lagi pernyataan-pernyataan seorang dosen yang menyalahkanpendapat dosen lain didepan mahasiswa..
Jadi, sebenarnya yang menjadi koban adalah mahasiswa (walaupun tidak seutuhnya), mahasiswa dihadapkan dengan doktrin yang berbeda dan bahkan bertolak belakang pada saat yang sama, jadi wajar saja ketika tujuan utama mahasiswa berubah haluan menjadi mencari nilai dan ijazah karena memang untuk mencari ilmu dan pemahaman sudah dikotori dengan perang doktrin antar dosen yang tidak mungkin dianut seorang mahasiswa dalam satu waktu yang sama (namun hal ini tidak bisa menjadi alasan pembenaran melakukan segala hal untuk mencapai tujuan kuliah-nilai, red).
Ukuran benar dan salah menjadi kabur dalam benak mahasiswa, dan penggunaan metode kontijensi sering dipakai mahasiswa, yaitu menggunakan strategi kuliah dan belajar yang berbeda untuk dosen yang berbeda, sehingga lahirlah mahasiswa berkepribadian ganda, tidak idealis, takut salah dan oportunis dan tidak mau disalahkan.
Berbicara mengenai kekuasaan kita akan selalu bicara power, maka power utama dosen adalah nilai, apa lagi yang ditakutkan mahasiswa selain tidak lulus mata kuliah (yang punya multiplier effect).

masalah adalah bukti perhatian

Punya masalah??*
Bersyukurlah jika kita masih punya masalah, dan merugilah bila kita tidak lagi punya masalah yang harus diselesaikan.
Pertanyaannya, mengapa?
Pernahkah terpikir oleh kita bahwa setiap masalah yang “dititipkan” Allah pada kita adalah bentuk kasih sayang yang teramat besar dari Allah pada kita, masalah yang dilimpahkan Allah pada kita tentunya sudah dipertimbangkan Allah dengan sedemikian rupa, telah diatur sedemikian rupa dengan planing terbaik untuk kehidupan dan amal kita.
Jadi tak salah jika masalah merupakan penyerahan kasih sayang Allah pada kita dalam bentuk “penugasan” kepada kita untuk menyelesaikan masalah itu,
Allah mau “menyempatkan” waktunya untuk menyusun susatu masalah yang akan dianugerahkan pada kita, bukankah ini bentuk perhatian Allah pada kita, tapi pertanyanya apakah kita sebagai manusias sudah mampu dengan sudut pandang ini? Kebanyakan kita hanya melihat setiap masalah dari perspektif negatif, kesulitan dan bahkan penolakan. Apakah kita akan menolak kasih sayang Allah? Adakah zat yang lain yang mampu memberikan kasih sayang yang melebihi kasih sayang Allah pada kita, kesombongan yang teramat besar!! Tidakakah kita malu!!

Satu hal lagi yang perlu kita bayangkan , apa jadinya jika Allah tidak memberi dan menganugerahkan masalah-masalah pada kita? Apa yang kan kita lakukan di dunia ini? Hanya duduk, diam dan pastinya tidak produktif..
Yakinlah bahwa Allah yang maha sempurna telah mengatur sesempurna mungkin setiap masalah-masalah yang dilimpahkan pada kita, sehingga dibalik setiap penyelesaian masalah Allah telah menyiapkan penyelesaiann yang akan kita lakukan, ada hal-hal positif dibalik itu semua.
Allah telah menyiapkan sederetan nilai-nilai ibadah lebih pada kita saat kita meneyelesaikan setiap masalah, karna kecenderungan manusia yang baru akan mengingat Allah ketika ada masalah, boleh diuji; mana doa kita yang panjang saat ada masalah dengan doa kita saat kita tidak punya masalah, kita akan lebih dekat kepada Allah ketika Allah menitipkan masalahnya pada kita.
Ada sebuah filosofi ringan yang perlu direnungkan kira kira begini bunyinya “ semilir angin baru akan terasa saat kita berkeringat kelelahan” makna yang mampu kita ambil adalah bahwa kita baru akan merasakan nikmat-nikmat Allah pada kita ketika kita punya banyak masalah, saat kita dalam cobaan..
 Manusia akan lebih menghargai kesehatan saat sedang sakit dibanding ketika manusia tersebut dalam keadaan sehat,
Allah mengerti sifat dasar kita ini, sehingga Allah menciptakan masalah-maslah yang pada akhirnya akan menyeret kita untuk lebih dekat kepada Allah, Allah mengaransemen sedemikian rupa setiap masalah untuk membuat manusia semakin memahami kebesaranNya. Itulah yang sebenarnyaAllah rencanakan dari semua rentetan kehidupan kita, termasuk didalamnya permasalahan-permasalahan yang terkadang tidak kita inginkan.
Pertanyaan terakhir, sudahkah kita sudah memohon masalah(untuk mengajarkan kita arti perjuangan) dalam setiap doa kita??


)* tulisan ini sudah pernah saya terbitkan di Notes Facebook, tapi saya share lagi disini, semoga bermanfaat..