Kamis, 18 Agustus 2011

tukang protes

tidak ada kebenaran hukum manusia yang bersifat mutlak, karna manusia akan selalu kesulitan bersikap objektif, akan selalu ada pertimbangan subjektif dan satu sudut pandang dalam pengambilan kebijakan dan penetuan keputusan dan hal ini juga lah yang melahirkan pemahaman akan pentingnya musyawarah, bersama-sama memutuskan kebijakan.
namun tidak stiap orang dan individu manusia menyadari ini, ia hanya terlahir sebagai tukang kritik, tukang protes dan bersikap seolah-olah tak satupun yang dilakukan oleh orang lain adalah benar.
dalam konteks ini,pemerintah sering menjadi bulan-bulanan, para "pengamat" yang super cerdas selalu saja melihat pemerintah sebagai objek sumpah serapah dan caci maki, jangankan mengapresiasi kebijakan dan hal yang dibuat pemerintah, untuk sekedar memandang dari sudut netral saja mereka ("pengamat") tidak akan pernah mau. yang mereka tau, pemerintah selalu salah, tidak sanggup menyelesaikan permasalahan dan begini dan begitu.
jika pemerintah melakukan kasalahan mereka merasa sebagai orang terdepan yang harus mengkritik, "seharusnya pemerintah begini....., seharusnya presiden melakukan ini..." merasa tidak cukup dengan itu semua, mereka biasanya akan menambahkan ini dan itu sehingga media massa merasa rugi kalau tidak memberitakannya.
di sisi lain, jika pemerintah melakukan dan menunjukkan sebuah kemajuan, mereka akan mengatakan "tokoh ini cari muka.. si anu sedang mencari dukungan publik" plus menambahkan ini dan itu sehingga pemerintah merasa terpojook.
lalu mana yang benar? masyarakat awam yang tidak tahu apa apa terpaksa disuapi dengan pemberitaan seperti itu akan menelan mentah-mentah. yang pada akhirnya akan muncul ketidakpercayaan publik pada pemerintah. dan si tukan protes akan meras sebagai pahlawan yang merasa telah mengungkap kebenaran, walaupun sebenarnya mereka sedang mengadu domba dan menghancurkan bangsa yang besar ini.
*coba sejenak kita melihat pemerintah dari sudut yang berbeda, sudut keberhasilan dan kemajuan barangkali agar kita sadar bahwa bangsa ini tidak hanya bisa terus terpuruk tapi juga bisa maju dengan optimisme kita semua, tentunya...

Minggu, 14 Agustus 2011

pengorbanan dan kekecewaan

kita sering ragu dengan apa yang dinamakan pengorbanan dan kekecewaan. karna kita sendiri belum mampu mengukur seberapa pengorbanan kita apalagi kekecewaan.
kita sering merasa sudah berkorban terlalu besar relatif dibanding apa yang akan dicapai, sehingga lahirlah kekecewaan. ataupun sebaliknya, kita sering kecewa dengan hasil yang diperoleh karna merasa pengorbanan kita belum optimal.
tulisan ini tidak akan mendefinisikan cara mengukur pengorbanan atau cara mengukur tingkat kekcewaan hanya saja ingin menyadarkan satu hal.
hanya satu hal..
selama kita masih mendefinisikan apa yang kita lakukan sebagai pengorbanan maka apapun hasilnya akan selalu mengecewakan, benarkah? tentu, dan akan akan berbeda jadinya ketika kita mendefinisikan apa yang kita lakukan sebagai kebutuhan atau sebagai sesuatu yang menyenangkan yang tidak diselingi dengan adanya ekspektasi keuntungan masa depan.
pemahaman mengenai pengorbanan mengajarkan segala sesuatunya akan dibalas, akan ada imbal balik dan akan ada hasil yang lebih besar, sehingga seberapa besarpun dan luar biasanya hasil yang ada hanya kekecewaan. karna pengorbanan dan hasil tidak akan pernah terukur dan ukurannya tidak konstan atau berbeda relatif diantara setiap orang.
memang sulit untuk mulai melakukan sesuatu tanpa ada harapan balasan atau biasa disebut dengan ikhlas. tapi tidak ada ada salahnya jika kita memulai untuk tidak mengukur-ukur apa yang kita korbankan.

Minggu, 07 Agustus 2011

formalitas tidak lagi mewakili substansi

tujuan awal sebuah formalitas, adalah mewakili dan memenuhi makna dari substansinya. dulu. kita menemukan bahwa surat menyurat, alur birokrasi dan regristrasi menjadi contoh besar sebuah formalitas yang memiliki substansi dan makna besar profesionalitas, formalitas yang mengikutinya memastikan bahwa makna besar profesionalitas tersebut terjamin dan tercapai. pemenuhan kebutuhan akan kelngkapan administrasi, kemudahan menjalankan sistem dan beberapa tujuan lainnya yang menjadikan latar belakang lahirnya formalitas bernama regristrasi, birokrasi dan sejenisnya.
substansi mengilmhami lahirnya sistem yang utuh dan terstruktur yang memakilinya yang bernama formalitas, dan berlatar belakang itulah, maka formalitas tidak akan pernah berdiri sendiri sebagai mana kemampuan sebuah substansi untuk berdiri sendiri. tujuan dan maksud utama-lah yang dimaknai sebagai substansi.
saya teringat dengan sebuah cerita, dizaman perang Vietnam (kalau tidak salah), pemberontak dikala itu membunuhi semua warga sipil yang menggunakan kaca mata, untuk menghapuskan intelektualitas dan menjadikan pemberontak sebagai penguasa, kenapa demikian? karna si pemberontak masih yakin (atau bisa jadi tertipu) bahwa setiap yang berkaca mata adalah orang cerdas yang rajin baca buku, karna mereka yakin dibalik kaca mata itu tersimpan sebah substansi bernama ilmu dan kecerdasan. dan itu dulu.
kini, tak seorangpun yakin dengan pernyataan bahwa "setiap yang berkaca mata adalah orang cerdas". karna substansi kaca mata sudah jauh bergeser dari yang dulunya sebagai alat bantu penglihatan, kini menjadi mode dan tren budaya. yang tidak mengalami gangguan penglihatan pun memakai kacamata, dengan alasan tren dan budaya. lalu apa jadinya jika pemberontak vietnam hadir lagi hari ini??
kita sering terjebak pada pemikiran bahwa formalitas akan selalu mewakili substansi padahal sebenarnya tidak, betapa banyak formalitas yang lahir saat ini dengan keraguan apa substansi dibaliknya.
tak bodoh ketika kita mau berfikir kecil, misalnya, kenapa kita harus pakai dasi?? atau kenapa kita harus bersepatu kulit??, ketika akan kuliah atau sekolah atau pertemuan penting. karna sebnarnya, tanpa dua hal itupun, tidak ada tujuan pembelajaran, tujuan kuliah atau tujuan presentasi terkurangi. saya salut dengan Ahmadinejad yang tidak pernah mau pakai dasi, dalam pertemuan sepenting apapun, (mungkin) karna Ia tahu,   dasi tidak memiliki substansi apa apa.
semua formalitas bodoh itu lahir dari sikap ikut-ikutan dan unconfidence, yang terus dibenarkan oleh zaman, tanpa ada yang mau memprotesnya.. lucu... sangat lucu...

Kamis, 04 Agustus 2011

ilmu

Salah satu yang membedakan antara ibadah dan amal yang diterima dengan yang tidak diterima adalah ILMU. apapun ada ilmunya. sebuah ibadah bisa saja menghasilkan letih dan kesia-siaan tanpa ada landasan pengetahuan mengenai pengamalan ibadah tersebut, dan begitu pula sebaliknya. ilmu menjadikan ibadah benilai lebih. tidak akan pernah sama antara orang yang berupaya mencari ilmu dengan orang yang malas mencarinya.
ilmu pengetahuan mengenai sebuah perbatan dan ibadah melahirkan pemahaman yang utuh mengenai tatacara, manfaat dan tujuan dari ibadah dan perbuatan. percuma saja sholat jika kita tidak pernah tahu ada apa dibalik sholat, apa tujuan sholat dan bahkan apa arti dibalik bacaan sholat yang kita baca.
terkait contoh ini, kami perah membaca, bagaimana Allah akan mengabulkan permintaan kita, jika kita sendiri tidak tahu apa makna doa yang kita baca, kita sendiri tidak paham dengan apa yang kita baca. jangan jadikan ibadah hanya sebagai ritual pelepas kewajiban semata, ada makna mendalam didalamnya, jika kita mau sedikit membaca terjemahan atau arti bacaan shalat. karena substansi dari shalat sendiri adalah untuk kita, karena Allah yang maha agung tidak pernah sedikitpun butuh dengan shalat kita, shalat merupakan bentuk penghambaan dan permohonan kita selaku hamba pada sang Khalik (pencipta). jika ibadah hanya lahir dari sikap ikut-ikutan tanpa pemahaman, tentunya bukanlah hal sulit bagi Allah untuk menolaknya.
begitu juga dengan perbuatan (amal), tanpa ilmu, perbuatan dan niat baik belum tentu akan menghasilkan sesuatu yang baik. sederhana sekali contohnya, apa yang akan terjadi jika seseorang yang berniat baik untuk menolong orang yang sedang sakit tanpa punya pengalaman pengetahuan mengenai pengobatan (dalam hal ini bisa jadi pendidikan dokter)?, bukan hanya sia-sia, bahkan bisa jadi si-sakit akan lebih menderita. namun tentunya hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak berbuat baik..
ilmu melandasi amalan dan ibadah, jangan sampai ibadah dan amalan kita menjadi sia-sia hanya karna kita malas untuk terus memperbaharui pengetahuan kita setiap hari..
wallahu a'lam bishawab..

Senin, 01 Agustus 2011

nikmat yang terlupakan

waktu dan kesehatan adalah dua nikmat yang disebutkan Nabi sebagai nikmat yang sering terlalaikan dan baru terasa manfaatnya saat kita sudah kehilangannya. orang yang sedang memiliki waktu senggang sering bingung dengan apa yang akan dilakukan dan penyesalan muncul dikemudian hari, "kenapa ga saya kerjakan dari kemaren-kemaren ya?" atau kita baru sadar nikmatnya sehat, saa kita sedang sakit. dan dalam keadaan sehat kita sering lupa memikirkan dan merenungi apa yang kita rasakan saat kita sedang sakit, jadi wajar saja jika ada sebuha aksioma yang mengatakan, "kesehatan adalah mahkota yang dipakai oleh orang yang sehat yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang sakit."
kita sering tidak merasakan manfaat sesuatu sebelum kita kehilangannya, ya begitulha manusia, jika diberi nikmat ia sombong, jika diberi musibah ia mengeluh..