Yang menjadikan perbuatan baik bernilai lebih adalah ke konsitenan dan ke komitmen, tanpa dua itu, perbuatan baik hanya akan terasa biasa-biasa saja. konsiten bermakna kesinambungan dan komitmen bermakna keseriusan. namun memang tidak cukup dimaknai sebatas pada dua makna itu.
perbuatan baik yang kecil yang dilakukan terus menerus akan lebih terasa manfaatnya dibanding perbuatan baik yang sekali saja walaupaun ukuran perbuatan baik tersebut besar. namun tetap yang terbaik adalah perbuatan baik yang ukurannya (kualitasnya) besar yang dilakukan terus menerus.
sebuah konsisten terbukti dengan adanya kesinambungn dan kontinuitas, dilakukan terus menerus dan tidak kondisional atau bahkan tidak melenceng pada riya dan cari muka, karakteristik konsiten akan lahir dari niat yang ikhlas, perbuatan baik yang dilakukannya tidak harus disaksikan oleh orang lain. "wa kafaa billahi syahida".
komitmen lahir dari keseriusan dan keinginan yang bersih dan lurus. komitmen menjadikan sipelaku kebaikan fokus pada tujuan kebaikannya, tidak ragu dengan kebaikan yang dilakukan dan tidak mudah tergoda dengan hal lain yang akan mengganggu pencapaian akhir dari perbuatan baiknya, bekerja sungguh-sungguh dan tentunya tidak hanya berorientasi pada hasil.
mari kita perbaiki perbuatan baik kita dan kita tambahkan konsisten dan komitmen bersamanya.
Kamis, 28 Juli 2011
Kamis, 14 Juli 2011
Adilnya Allah
Assalamualaikum,
memiliki apa yang tidak kita miliki, dan mampu dimiliki oleh orang lain terkadang membuat kita berfikir " ada yang salah dengan saya", atau " kenapa saya tidak bisa?", atau bahkan " Tuhan tidak adil".
semoga saja kita tidak memiliki pemikiran yang terakhir.
apa yang kita miliki, adalah apa yang menurut Allah akan kita perlukan, apa yang menurut Allah akan memberikan kebaikan kepada kita, dan Allah tentunya lebih tahu dengan apa yang kita butuhkan dibanding kita sendiri ( Dia lah yang menciptakan kita, bukan?)
tapi terkadang kita sering memandang setiap kelebihan yang dimiliki oleh orang lain sebagai bentuk "pilih kasih"nya Allah pada Hambanya, sehingga sering muncul pernyataan ketiga tadi.. kita memandang sesuatu berdasarkan pemikiran kita, kita memandang Allah lebih memperhatikan orang lain dari pada diri kita.
ketika hal ini lahir dalam pemikiran kita atau bahkan sempat terlontar melalui doa dan perbuatan kita (naudzubillah) maka kita seharusnya sadar bahwa "ada yang salah dengan saya", "ada yang salah dengan keimanan saya", " ada yang salah dengan pemahaman saya kan ke Maha Adilnya Allah".
Allah yang maha Adil dan Maha Tahu dengan apa yang kita butuhkan,
yang kita lakukan hanyalah
1. Berdoa (Albaqoroh 186)
2. Berusaha (Al Jumuah 10)
3. dan Berbaik sangka kepada Allah tentunya.
memiliki apa yang tidak kita miliki, dan mampu dimiliki oleh orang lain terkadang membuat kita berfikir " ada yang salah dengan saya", atau " kenapa saya tidak bisa?", atau bahkan " Tuhan tidak adil".
semoga saja kita tidak memiliki pemikiran yang terakhir.
apa yang kita miliki, adalah apa yang menurut Allah akan kita perlukan, apa yang menurut Allah akan memberikan kebaikan kepada kita, dan Allah tentunya lebih tahu dengan apa yang kita butuhkan dibanding kita sendiri ( Dia lah yang menciptakan kita, bukan?)
tapi terkadang kita sering memandang setiap kelebihan yang dimiliki oleh orang lain sebagai bentuk "pilih kasih"nya Allah pada Hambanya, sehingga sering muncul pernyataan ketiga tadi.. kita memandang sesuatu berdasarkan pemikiran kita, kita memandang Allah lebih memperhatikan orang lain dari pada diri kita.
ketika hal ini lahir dalam pemikiran kita atau bahkan sempat terlontar melalui doa dan perbuatan kita (naudzubillah) maka kita seharusnya sadar bahwa "ada yang salah dengan saya", "ada yang salah dengan keimanan saya", " ada yang salah dengan pemahaman saya kan ke Maha Adilnya Allah".
Allah yang maha Adil dan Maha Tahu dengan apa yang kita butuhkan,
yang kita lakukan hanyalah
1. Berdoa (Albaqoroh 186)
2. Berusaha (Al Jumuah 10)
3. dan Berbaik sangka kepada Allah tentunya.
Langganan:
Postingan (Atom)