Kamis, 08 September 2011

Ayah tak pernah Marah

Tak pernah ayahku memarahiku, jika Ia harus marah Ia hanya akan menyindir dan berkata dengan irama yang sedikit berat lalu sedikit menyampaikan nasihat. Apapun yang kulakukan, walaupun aku sendiri sadar  bahwa yang kulakukan adalah salah dan sangat patut dimarahi,  Ia hanya sedikit bernasihat dan mengatakan apa yang seharusnya kulakukan untuk selanjutnya, ayahku seperti “ayah juara satu”nya Andrea hirata.
Ia tak marah ketika aku menjatuhkan jam tangan yang baru dibelinya di hari pasar tepat sehari sebelumnya kedalam sungai yang sedang keruh dan tidak ketemu walaupun sudah dicari. Ia juga tidak marah ketika Ia tahu aku kedapatan menyelundupkan buku perpustakaan sekolah dan banyak lagi kemarahan ayah yang sudah diredamnya sendiri. Ia memang ayah juara satu.
Tapi ia tidak pendiam, ia periang. Tak tergambar di wajahnya bahwa ia memendam segala amarahnya, tak tergambar juga ia memikirkan apa yang sudah ku perbuat. Atau Ia tidak pernah “makan hati” dengan apa yang menurutku sudah menjadi beban baginya. Aku tidak tahu apakah karna ia sudah bosan atau sudah tidak peduli dengan rasa marahnya.
Kini ia sudah tua, jika tanggal lahir di KTPnya benar, maka sudah lima puluh tahun usianya. Terkait KTP ini nanti akan kuceritakan. sudah  Sembilan semester kuliahku dibiayainya, belasan tahun aku sekolah dengan keringatnya dan sudah bermacam pula kenakalan yang ku perbuat. Ia tetap seperti dulu masih tidak marah dan hanya sedikit menunjukkan raut wajah yang sudah dimakan usia. Urat-urat yang menyembul dilengannya sedikit put tidak menunjukkan ia darah tinggi dengan memendam segala kemarahan selama ini. Bahkan ketika aku SMP ia sempat sakit dan sakitnya adalah tekanan darah rendah.
Kalau kalian mengatakan Ia begitu karna aku adalah anak kesayangan. Maka ketahuilah Ia juga tiak pernah marah kepada Adikku.
Ayah yang tidak pernah tahu tepat tanggal, bulan dan tahun lahirnya sendiri, ketika akan memperbaharui KTP, membuat kartu kerja Ia selalu bingung dan menyebutkan tanggal dan bulan sembarangan. Ketika ku Tanya pun, jawabannya adalah “tanggal jo tahunnyo yo beda-beda, tapi tahunnyo samo ma..” . sederhana.
Hidupnya begitu sederhana, tak ada masalah dalam hidunya, bahkan ketika SPP ku sudah harus dibayar, semsntara Ia tidak tahu harus kemana meminjam, ia selalu berkata, “Bilo Terakhir Bayia SPPnyo, besuk apak kirim..”. kata-kata besok dan memastikan inilah yang sering membuat hatiku pilu. Karna aku tahu selalu bagaimana gajinya, dan aku yakin untuk kesekian kalinya ia akan meminjam lagi pada orang lain. Aku yakin seyakin yakinnya. Dan keyakinan ku ini terkadang membuatku merasa terharu untuk minta lagi padanya.
Kini, sudah saatnya aku pulang kampung. Bertemu lagi dengannya dan menyampaikan sebuah berita gembira : aku mendapat beasiswa
Dan untuk pertama kalinya Ia marah dan lebih dari sekedar kecewa. Aku tak tahu kenapa, tapi perubahan raut wajah dan suaranya yang meninggi bertepatan dengan selesainya aku memberitahukan padanya aku mendapat beasiswa. dan ini tidak seperti marahnya yang biasa.
Namun kini ku dapat simpulkan apa arti raut wajahnya itu, “ndak cukuik nan apak kirim salamo ko nak?, paralu lu ang minta-minta beasiswa untuak kuliah.”
Aku tersentak dan tersadar dengan apa yang kulakukan, dengan aku mengajukan beasiswa ini, aku sudah tak menghargai apa yang diberikannya selama ini. Akupun sadar, Ia hanya ingin aku besar dan berhasil dengan keringatnya, bukan dengan pemberian dan belas kasih orang lain, apalagi didapat dengan meminta-minta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan komentarnya yang luar biasa, karena tulisan ini biasa-biasa saja..
terima kasih ^_^