Benar dan salah sangat relatif
Sangat setuju dengan pernyataan diatas, benar dan salah sesuatu itu sangat tergantung dari sudut pandang dan bagaimana penyikapan terhadap objek yang akan dinilai kebenaran atau kesalahannya.
Namun yang ingin dibahas kali ini adalah, bahwa benar dan salah itu tergantung pada siapa yang berkuasa. Dan sangat tergantung lagi dengan pola pikir penguasa tersebut.
Tidak perlu dalam sebuah negara dan bangsa, kita ambil contoh kecil dalam sebuah kelas mata kuliah saja, siapa yang berkuasa?? Siapa lagi kalau bukan dosen (dan saya yakin pembaca pun sangat setuju dengan pernyataan ini), sehingga dosenlah yang akan menetukan benar atau salahnya segala sesuatu yang terjadi selama perkuliahan, termasuk benar atau salahnya jawaban mahasisiwa saat ujian, sepandai apapun mahasiswa menjelaskan bahwa jawabannya adalah benar, namun jika dosen yang sudah menyalahkan, sangat kecil kemungkinan jawaban itu akan dibenarkan atau dikoreksi. Dan termasuk hal- hal lain dalam perkuliahan, benar atau salah pendapat seorang mahasiswa dalam sebuah seminar atau presentasi tergantung juga dengan pola pikir dan pendapat dosen.
Beberapa alasan yang menyebabkan hal ini terjadi diantaranya adalah, pertama, adanya asumsi bahwa dosen lebih cerdas dibanding mahasiswa ,kita akan mengakui bahwa dosen lebih mengetahui dan berpengalaman dibanding mahasiswa, tapi untuk pernyatan bahwa dosen lebih cerdas dibanding mahasiswa itu kurang dapat disepakati. Pola pikir seorang dosen tidak hanya sangat dipengaruhi luasnya pengetahuan , pengalaman dosen, dan banyaknya ilmu yang dimiliki, tetapi juga dipengaruh lingkungan dosen, baik selama masa studinya dahulu , sikap dosennya terdahulu terhadap sang dosen dan lingkungan kemajuan teknologi dimasanya dahulu.
Sebuah contoh sederhana, seorang dosen senior (sering juga diartikan dosen yang sudah lama mengajar, atau dosen yang sudah tua) sering berpendapat bahwa kuliah tutorial dan langsung menggunakan bahasa verbal adalah sistem perkuliahan terbaik, tanpa presentasi dan slide-slide power point dan mohon maaf bahkan ada sebagian dosen senior itu yang beranggapan pengguana teknologi proyektor( presentasi) adalah sistem malas, dan tidak efektif. Benarkah?? Ini adalah ukuran benar salah yang dianut seorang dosen senior. Berbeda lagi dengan pemikiran seorang dosen junior mengutamakan pengguanaan sarana teknologi dengan semaksimal mungkin tentunya akan sedikit kurang setuju dengan pihak-pihak yang anti dengan teknologi, menganggap pemikiran seperti itu adalah pemikiran kolot yang salah. Belum lagi pernyataan-pernyataan seorang dosen yang menyalahkanpendapat dosen lain didepan mahasiswa..
Jadi, sebenarnya yang menjadi koban adalah mahasiswa (walaupun tidak seutuhnya), mahasiswa dihadapkan dengan doktrin yang berbeda dan bahkan bertolak belakang pada saat yang sama, jadi wajar saja ketika tujuan utama mahasiswa berubah haluan menjadi mencari nilai dan ijazah karena memang untuk mencari ilmu dan pemahaman sudah dikotori dengan perang doktrin antar dosen yang tidak mungkin dianut seorang mahasiswa dalam satu waktu yang sama (namun hal ini tidak bisa menjadi alasan pembenaran melakukan segala hal untuk mencapai tujuan kuliah-nilai, red).
Ukuran benar dan salah menjadi kabur dalam benak mahasiswa, dan penggunaan metode kontijensi sering dipakai mahasiswa, yaitu menggunakan strategi kuliah dan belajar yang berbeda untuk dosen yang berbeda, sehingga lahirlah mahasiswa berkepribadian ganda, tidak idealis, takut salah dan oportunis dan tidak mau disalahkan.
Berbicara mengenai kekuasaan kita akan selalu bicara power, maka power utama dosen adalah nilai, apa lagi yang ditakutkan mahasiswa selain tidak lulus mata kuliah (yang punya multiplier effect).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan komentarnya yang luar biasa, karena tulisan ini biasa-biasa saja..
terima kasih ^_^