kenapa kita meski disibukkan dengan pembahasn yang tidak penting, dan hal hal yang jelas-jelas subhat, jika memang kita ragu dengan hukum suatu kegiatan muamalah, kenapa tidak ditinggal kan saja, karna salah satu ciri dari kesempurnaan berislam adalah sikap wara', yaitu menjauhi hal hal yang meragukan dan tentunya juga hal-hal yang sudah jelas keharamannya,
kenapa kita meski disibukkan dengan perdebatanmengenai hukum rokok, rebonding, dan foto prewedding? semuanya jelas ke subhatannya, dari pada kita terjebak dalam perdebatan yang tidak berujung,kenapa kita tidak meninggalkan saja? toh semua sudah jelas tidak ada manfattnya? baik dari sisi kehidupan dunia, bahkan akhirat bukan?
apa sih yang kita dapatkan dengan merokok? yang jelas kita membayar mahal untuk menambahkan penyakit dalam tubuh yang dititipkan Allah pad kita ini,. betapa zalimnya kita
jika dilihat dari beberapa sisi, setidaknya ada dua alasan kenapa kita suka bermain main dengan hal yang subhat,
pertama, memang ada alasan kepentingan tertentu dibalik debat debat panjang hal hal subhat dan tidak bermanfaat, terutama kepentingan ekonomi, contoh kecil, rokok, ketika muncul isu-isu merokok diharamkan oleh MUI, banyak sekali pihak yang menentang, terutama perusahaan perusahaan rokok, dengan dalih melindungi karyawan dari pemecatan, mereka berlindung dibalik punggung para buruhnya untuk tetap menginjeksikan racun pada penduduk bangsa ini. Termasuk membangga-banggakan rokok sebagai sumber pendapatan terbesar Negara melauli cukai. Seolah olah bangsa ini hidup dengan cukai yang mereka bayarkan, sehingga muncul anggapan pada mayoritas masyarakat (terutama perokok) bahwa jika sampai pabrk rokok ditutup maka akan terjadi keguncangan perekonomian bangsa ini. Tapi benarkah, mari sama-sama kita lihat faktanya. Rokok sebagai sumber utama berbagai penyakit, tidak ada yang menolak pernyataan ini, kita semua setuju dengan hal ini, bahkan para perokok dan produsen rokok sekalipun, sehingga semua perusahaan rokok setuju untuk menuliskan “merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin” pada kemasan rokoknya, dan tentunya rokok menjadi penyebab penyakit yang mendominasi penyebab penderitaan pasien pasien yang ada dirumah sakit. Pemerintah mengeluarkan subsidi untuk fasilitas kesehatan setiap tahunnya dan kita tahu jumlahnya tidak sedikit, dan tentunya juga ada alokasi subsidi ini untuk para pasien dengan penyakit yang disebabkan oleh rokok, dan faktanya, setelah diukur, subsidi yang digunakan untuk mengobati pasien pasien korban rokok tersebut jauh lebih besar dari cukai yang dihasilkan dari produksi rokok dinegara ini. Sadar?. Ya inilah faktanya, masihkah kita yakin dengan manfaat merokok. Tapi barangkali fakta ini tidak ada artinya bagi para produsen rokok yang merasa sudah menghapus dosanya dengan CSR nya, pendidikan, olah raga dan sebagainya, lucu, bahkan sangat lucu dan juga fakta ini tidak akan berguna bagi para perokok yang sudah terlanjur dikuasai oleh nikotoin yang menumpuk diparu-parunya. Efek nikotin ternyata tidak hanya pada gangguna kesehatan tapi juga pada otak, sehingga para pecandu rokok mampu menelurkan alasan alasan dan logika-logika bodoh. Tambah lucu.. dan kita baru membahas satu contoh, rokok, belum yang lain, belum dengan rebonding, belum foto prewedding.. ha..ha..
hal kedua yang menjadi alasan orang orang yang suka bermain main dengan hal –hal subhat adalah kebiasaan berdebat, atau suka protes tepatnya, orang orang seperti ini biasanya memandang setiap kebijakan sebagai hasil dari kebodohan orang lain, walaupun sebenarnya orang se[erti ini mampu melihat hal positif dari kebijakan tersebut, namun ia tidak senga bila tidak memprotes kebijakan baru, selalu ada nilai negative dari kebijakan kebijakan. Hobi berdebat dan memposisikan diri sebagai oposisis pembaut kebijakan, selalu berasumsi bahwa pembuat kebijakan adalah kumpulan koruptor yang hanya berfikir untuk kepentingan sendiri, benarkah? Orang orang seperti ini tak bisa dilawan dengan fakta, apalagi agama (landasan FIqh), orang orang seperti ini melandasi segala opininya dengan logika, baik dan benar secar ukuran otak dan pemikiran, memojokkan pihak lain dan memihak pada pihak lainnya. Dan mujur saja kalau mereka bukan sedang menjilat pada pihak tertentu, karena mayoritas orang seperti ini sedang berupaya menarik perhatian pihak tertentu (menjilat), atau minimal sedang mencari popularitas..
kembali ke topik utama, hal hal subhat (meragukan) sering menjadi bahan perdebatan karena memang batasan antara benar, salah dan halal haram ada pada hal hal seperti ini, namun seperti disimpulkan diatas, dalam hal ini seorang muslim harus mengambil jalur aman dengan bersikap konservatif, atau tepatnya berhati hati. Sikap nyatanya adalah dengan menghindari dan tidak melakukan hal hal subhat tersebut, bagi seorang muslim, hal hal subhat akan lebih baik bila dianggap haram saja, terkait dengan kemungkinan haramnya hal tersebut. Jika diambil permisalan dengan bersih dan tidak bersih pada makanan, apa yang akan kita lakukan jika sepotong roti yang sedang kita makan jatuh kelantai?, secara fisik tidak terlihat makanan tersebut kotor? Mayoritas kita akan lebih memilih untuk tidak memakan roti tersebut, alasan utamanya adalah keraguan apakah makanan tersebut masih benar benar-bersih?, hanya sedikit yang mau mengambil risiko dengan berasumsi makanan tersebut masih bersih, benarkan demikian??
Lalu apa bedanya dengan halal-haram, apakah kita mau mengambil risiko dibakar di neraka dengan asumsi asumsi (logika) bahwa merokok, rebonding dsb itu halal???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan komentarnya yang luar biasa, karena tulisan ini biasa-biasa saja..
terima kasih ^_^