Kamis, 04 Agustus 2011

ilmu

Salah satu yang membedakan antara ibadah dan amal yang diterima dengan yang tidak diterima adalah ILMU. apapun ada ilmunya. sebuah ibadah bisa saja menghasilkan letih dan kesia-siaan tanpa ada landasan pengetahuan mengenai pengamalan ibadah tersebut, dan begitu pula sebaliknya. ilmu menjadikan ibadah benilai lebih. tidak akan pernah sama antara orang yang berupaya mencari ilmu dengan orang yang malas mencarinya.
ilmu pengetahuan mengenai sebuah perbatan dan ibadah melahirkan pemahaman yang utuh mengenai tatacara, manfaat dan tujuan dari ibadah dan perbuatan. percuma saja sholat jika kita tidak pernah tahu ada apa dibalik sholat, apa tujuan sholat dan bahkan apa arti dibalik bacaan sholat yang kita baca.
terkait contoh ini, kami perah membaca, bagaimana Allah akan mengabulkan permintaan kita, jika kita sendiri tidak tahu apa makna doa yang kita baca, kita sendiri tidak paham dengan apa yang kita baca. jangan jadikan ibadah hanya sebagai ritual pelepas kewajiban semata, ada makna mendalam didalamnya, jika kita mau sedikit membaca terjemahan atau arti bacaan shalat. karena substansi dari shalat sendiri adalah untuk kita, karena Allah yang maha agung tidak pernah sedikitpun butuh dengan shalat kita, shalat merupakan bentuk penghambaan dan permohonan kita selaku hamba pada sang Khalik (pencipta). jika ibadah hanya lahir dari sikap ikut-ikutan tanpa pemahaman, tentunya bukanlah hal sulit bagi Allah untuk menolaknya.
begitu juga dengan perbuatan (amal), tanpa ilmu, perbuatan dan niat baik belum tentu akan menghasilkan sesuatu yang baik. sederhana sekali contohnya, apa yang akan terjadi jika seseorang yang berniat baik untuk menolong orang yang sedang sakit tanpa punya pengalaman pengetahuan mengenai pengobatan (dalam hal ini bisa jadi pendidikan dokter)?, bukan hanya sia-sia, bahkan bisa jadi si-sakit akan lebih menderita. namun tentunya hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak berbuat baik..
ilmu melandasi amalan dan ibadah, jangan sampai ibadah dan amalan kita menjadi sia-sia hanya karna kita malas untuk terus memperbaharui pengetahuan kita setiap hari..
wallahu a'lam bishawab..

Senin, 01 Agustus 2011

nikmat yang terlupakan

waktu dan kesehatan adalah dua nikmat yang disebutkan Nabi sebagai nikmat yang sering terlalaikan dan baru terasa manfaatnya saat kita sudah kehilangannya. orang yang sedang memiliki waktu senggang sering bingung dengan apa yang akan dilakukan dan penyesalan muncul dikemudian hari, "kenapa ga saya kerjakan dari kemaren-kemaren ya?" atau kita baru sadar nikmatnya sehat, saa kita sedang sakit. dan dalam keadaan sehat kita sering lupa memikirkan dan merenungi apa yang kita rasakan saat kita sedang sakit, jadi wajar saja jika ada sebuha aksioma yang mengatakan, "kesehatan adalah mahkota yang dipakai oleh orang yang sehat yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang sakit."
kita sering tidak merasakan manfaat sesuatu sebelum kita kehilangannya, ya begitulha manusia, jika diberi nikmat ia sombong, jika diberi musibah ia mengeluh..

Kamis, 28 Juli 2011

konsiten dan komitmen

Yang menjadikan perbuatan baik bernilai lebih adalah ke konsitenan dan ke komitmen, tanpa dua itu, perbuatan baik hanya akan terasa biasa-biasa saja. konsiten bermakna kesinambungan dan komitmen bermakna keseriusan. namun memang tidak cukup dimaknai sebatas pada dua makna itu.
perbuatan baik yang kecil yang dilakukan terus menerus akan lebih terasa manfaatnya dibanding perbuatan baik yang sekali saja walaupaun ukuran perbuatan baik tersebut besar. namun tetap yang terbaik adalah perbuatan baik yang ukurannya (kualitasnya) besar yang dilakukan terus menerus.
sebuah konsisten terbukti dengan adanya kesinambungn dan kontinuitas, dilakukan terus menerus dan tidak kondisional atau bahkan tidak melenceng pada riya dan cari muka, karakteristik konsiten akan lahir dari niat yang ikhlas, perbuatan baik yang dilakukannya tidak harus disaksikan oleh orang lain. "wa kafaa billahi syahida".
komitmen lahir dari keseriusan dan keinginan yang bersih dan lurus. komitmen menjadikan sipelaku kebaikan fokus pada tujuan kebaikannya, tidak ragu dengan kebaikan yang dilakukan dan tidak mudah tergoda dengan hal lain yang akan mengganggu pencapaian akhir dari perbuatan baiknya, bekerja sungguh-sungguh dan tentunya tidak hanya berorientasi pada hasil.
mari kita perbaiki perbuatan baik kita dan kita tambahkan konsisten dan komitmen bersamanya.

Kamis, 14 Juli 2011

Adilnya Allah

Assalamualaikum,
memiliki apa yang tidak kita miliki, dan mampu dimiliki oleh orang lain terkadang membuat kita berfikir " ada yang salah dengan saya", atau " kenapa saya tidak bisa?", atau bahkan " Tuhan tidak adil".
semoga saja kita tidak memiliki pemikiran yang terakhir.
apa yang kita miliki, adalah apa yang menurut Allah akan kita perlukan, apa yang menurut Allah akan memberikan kebaikan kepada kita, dan Allah tentunya lebih tahu dengan apa yang kita butuhkan dibanding kita sendiri ( Dia lah yang menciptakan kita, bukan?)
tapi terkadang kita sering memandang setiap kelebihan yang dimiliki oleh orang lain sebagai bentuk "pilih kasih"nya Allah pada Hambanya, sehingga sering muncul pernyataan ketiga tadi.. kita memandang sesuatu berdasarkan pemikiran kita, kita memandang Allah lebih memperhatikan orang lain dari pada diri kita.
ketika hal ini lahir dalam pemikiran kita atau bahkan sempat terlontar melalui doa dan perbuatan kita (naudzubillah) maka kita seharusnya sadar bahwa "ada yang salah dengan saya", "ada yang salah dengan keimanan saya", " ada yang salah dengan pemahaman saya kan ke Maha Adilnya Allah".

Allah yang maha Adil dan Maha Tahu dengan apa yang kita butuhkan,
yang kita lakukan hanyalah
1. Berdoa (Albaqoroh 186)
2. Berusaha (Al Jumuah 10)
3. dan Berbaik sangka kepada Allah tentunya.

Minggu, 05 Juni 2011

Menilik fenomena saat ini, membuat benchmark dan tergila gila..

Menilik fenomena saat ini, membuat benchmark dan tergila gila..
Kenapa kita sibuk meniru orang lain, kita dilahirkan dengan keunikan yang hanya kita pribadi yang memilikinya. Meniru dan berusaha menjadi orang lain hanya membuat kita lelah dan selalu dikejar-kejar mode, takut ketinggalan dan merasa tidak percaya diri dengan apa yang dimiliki,
Kemungkinan pertama bagi orang orang yang seperti ini adalah, orang yang tidak memiliki identitas dan merasa perlu dan penting untuk meniru identitas orang lain, tidak memahami keunikan yang special yang Allah berikan hanya pada dirinya. Ia merasa tidak percaya diri dengan apa yang dimiliki atau dengan apa yang dilakukannya. Ia merasa apa yang dilakukan oleh orang lain sebagai budaya acuan yang lebih diterima oleh lingkungannya, orang orang seperti ini cenderung berusaha menarik perhatian orang lain dengan melakukan hal hal yang dianggap keren. Sebuah contoh kecil, apa sih substansinya memasang gelang karet ditangan, apakah akan berpengaruh pada kesehatan? Akan menjadikan lebih bermanfaat? Sepertinya tidak ada.. tapi semuanya lebih cenderung pada meniru apa yang dipakai oleh seseorang atau sekelompok figur masyarakat, merasa penting untuk meniru identitas itu dan merasa  tertinggal jika tidak mengikutinya. Itu baru gelang karet, belum gaya rambut, pakaian, celana dan banyak lagi.., lalu jika pada suatu hari nanti figur massa ini memperkenalkan mode baru, ya itulah benchmark nya, jangan ditanya, etis tidak etis atau benar atau tidak benar, acuan benar dan salah sudah mengacu pada mode dan tidak mode.

Selasa, 12 April 2011

ku coba potret nyawa-nyawa yang bergantungan
pada pohon-pohon itu
ada satu nyawa yang menyapa
tapi yang lain diam
ia tersenyum
memandang jiwa yang mati dihadapnya

*ditulis tahun 2008

Kamis, 07 April 2011

puisi

aku berdiri dengan terhuyung
merekam jejak napas
menghirup senja-senja yang tertinggal
lari dan menerawang terlindas roda-roda
yang terus berpacu dan menderu
Tanpa teringat api yang mulai padam
                ada sebuah sajak yang tak akan pernah aku ceritakan padamu
kini kan ku bacakan dengan lidah ini
harus terus mengalair karna hujan tak pernah teduh








disini ada gelap menanti
jiwa berkeping
terpecah dalam remah-remah kecil
tapi ada dosa yang tertinggal

bolehkah aku maju selangkah
menjejak dan menghirup
klise-klise masa lalu
yang seharusnya sudah mati
dan kini tanpa ada yang terpisah

bolehkah aku punguti kepingan pagi
yang berlalu
dan kepingan senja yang menjelang..


*kedua puisi ini ditulis pada tahun 2008-an,