Kamis, 28 Juli 2011

konsiten dan komitmen

Yang menjadikan perbuatan baik bernilai lebih adalah ke konsitenan dan ke komitmen, tanpa dua itu, perbuatan baik hanya akan terasa biasa-biasa saja. konsiten bermakna kesinambungan dan komitmen bermakna keseriusan. namun memang tidak cukup dimaknai sebatas pada dua makna itu.
perbuatan baik yang kecil yang dilakukan terus menerus akan lebih terasa manfaatnya dibanding perbuatan baik yang sekali saja walaupaun ukuran perbuatan baik tersebut besar. namun tetap yang terbaik adalah perbuatan baik yang ukurannya (kualitasnya) besar yang dilakukan terus menerus.
sebuah konsisten terbukti dengan adanya kesinambungn dan kontinuitas, dilakukan terus menerus dan tidak kondisional atau bahkan tidak melenceng pada riya dan cari muka, karakteristik konsiten akan lahir dari niat yang ikhlas, perbuatan baik yang dilakukannya tidak harus disaksikan oleh orang lain. "wa kafaa billahi syahida".
komitmen lahir dari keseriusan dan keinginan yang bersih dan lurus. komitmen menjadikan sipelaku kebaikan fokus pada tujuan kebaikannya, tidak ragu dengan kebaikan yang dilakukan dan tidak mudah tergoda dengan hal lain yang akan mengganggu pencapaian akhir dari perbuatan baiknya, bekerja sungguh-sungguh dan tentunya tidak hanya berorientasi pada hasil.
mari kita perbaiki perbuatan baik kita dan kita tambahkan konsisten dan komitmen bersamanya.

Kamis, 14 Juli 2011

Adilnya Allah

Assalamualaikum,
memiliki apa yang tidak kita miliki, dan mampu dimiliki oleh orang lain terkadang membuat kita berfikir " ada yang salah dengan saya", atau " kenapa saya tidak bisa?", atau bahkan " Tuhan tidak adil".
semoga saja kita tidak memiliki pemikiran yang terakhir.
apa yang kita miliki, adalah apa yang menurut Allah akan kita perlukan, apa yang menurut Allah akan memberikan kebaikan kepada kita, dan Allah tentunya lebih tahu dengan apa yang kita butuhkan dibanding kita sendiri ( Dia lah yang menciptakan kita, bukan?)
tapi terkadang kita sering memandang setiap kelebihan yang dimiliki oleh orang lain sebagai bentuk "pilih kasih"nya Allah pada Hambanya, sehingga sering muncul pernyataan ketiga tadi.. kita memandang sesuatu berdasarkan pemikiran kita, kita memandang Allah lebih memperhatikan orang lain dari pada diri kita.
ketika hal ini lahir dalam pemikiran kita atau bahkan sempat terlontar melalui doa dan perbuatan kita (naudzubillah) maka kita seharusnya sadar bahwa "ada yang salah dengan saya", "ada yang salah dengan keimanan saya", " ada yang salah dengan pemahaman saya kan ke Maha Adilnya Allah".

Allah yang maha Adil dan Maha Tahu dengan apa yang kita butuhkan,
yang kita lakukan hanyalah
1. Berdoa (Albaqoroh 186)
2. Berusaha (Al Jumuah 10)
3. dan Berbaik sangka kepada Allah tentunya.

Minggu, 05 Juni 2011

Menilik fenomena saat ini, membuat benchmark dan tergila gila..

Menilik fenomena saat ini, membuat benchmark dan tergila gila..
Kenapa kita sibuk meniru orang lain, kita dilahirkan dengan keunikan yang hanya kita pribadi yang memilikinya. Meniru dan berusaha menjadi orang lain hanya membuat kita lelah dan selalu dikejar-kejar mode, takut ketinggalan dan merasa tidak percaya diri dengan apa yang dimiliki,
Kemungkinan pertama bagi orang orang yang seperti ini adalah, orang yang tidak memiliki identitas dan merasa perlu dan penting untuk meniru identitas orang lain, tidak memahami keunikan yang special yang Allah berikan hanya pada dirinya. Ia merasa tidak percaya diri dengan apa yang dimiliki atau dengan apa yang dilakukannya. Ia merasa apa yang dilakukan oleh orang lain sebagai budaya acuan yang lebih diterima oleh lingkungannya, orang orang seperti ini cenderung berusaha menarik perhatian orang lain dengan melakukan hal hal yang dianggap keren. Sebuah contoh kecil, apa sih substansinya memasang gelang karet ditangan, apakah akan berpengaruh pada kesehatan? Akan menjadikan lebih bermanfaat? Sepertinya tidak ada.. tapi semuanya lebih cenderung pada meniru apa yang dipakai oleh seseorang atau sekelompok figur masyarakat, merasa penting untuk meniru identitas itu dan merasa  tertinggal jika tidak mengikutinya. Itu baru gelang karet, belum gaya rambut, pakaian, celana dan banyak lagi.., lalu jika pada suatu hari nanti figur massa ini memperkenalkan mode baru, ya itulah benchmark nya, jangan ditanya, etis tidak etis atau benar atau tidak benar, acuan benar dan salah sudah mengacu pada mode dan tidak mode.

Selasa, 12 April 2011

ku coba potret nyawa-nyawa yang bergantungan
pada pohon-pohon itu
ada satu nyawa yang menyapa
tapi yang lain diam
ia tersenyum
memandang jiwa yang mati dihadapnya

*ditulis tahun 2008

Kamis, 07 April 2011

puisi

aku berdiri dengan terhuyung
merekam jejak napas
menghirup senja-senja yang tertinggal
lari dan menerawang terlindas roda-roda
yang terus berpacu dan menderu
Tanpa teringat api yang mulai padam
                ada sebuah sajak yang tak akan pernah aku ceritakan padamu
kini kan ku bacakan dengan lidah ini
harus terus mengalair karna hujan tak pernah teduh








disini ada gelap menanti
jiwa berkeping
terpecah dalam remah-remah kecil
tapi ada dosa yang tertinggal

bolehkah aku maju selangkah
menjejak dan menghirup
klise-klise masa lalu
yang seharusnya sudah mati
dan kini tanpa ada yang terpisah

bolehkah aku punguti kepingan pagi
yang berlalu
dan kepingan senja yang menjelang..


*kedua puisi ini ditulis pada tahun 2008-an,

Selasa, 08 Maret 2011

sistem ajar berbasis karya

Ada beberapa fakta yang menyedihkan bahwa sistem pendidikan yang diharapkan melahirkan generasi yang jujur dan tangguh menghadapi segala permaslahan justru malah menciptakan generasi yang tidak prnah optimis dengan apa yang dilakukan dan munculnya pemahaman bahawa Nilai adalah standar baku dalam pengevaluasian hasil belajar, kami berfikir ada banyak dampak lain yang dihasilkan oleh sistem ini, disampinhg hal hal diatas.
Beberapa kelamahan sistem pendidikan yang diimplementasikan pada hari ini adalah, sistem pengevalusian hasil belajar ebasis point dan penilaian , hal ini tentunya akan menciptakn asumsi dalam pemikiran kita semua (tidak hanya pesrta didik tetapi juga orang tua, guru dan semua stake holder pendidikan)bahwa tujuan akhir dari pendidikan adalah “ nilai”. Sehingga setiap tahap pendidikan peserta ajar selalu disuapi dengan metode-metode mendapatkan nilai baik, dan selalu diberondong dengan kecaman-kecaman jika mendapat nilai Buruk, tidak hanya dari orang tua tetapi juga dari guru) miris sekali memperhatikan hal ini. Ditambah lagi dengan “dukungan “ dari bebagai pihak yang menjadikan  “nilai” sebagai acuan utama dalam pengambilan keputusan apapun, misalnya untuk bekerja dan memperoleh kesempatan kerja.
Sistem seperti ini juga menghasilkan sikap mental yang sangant tidak baik, karna peserta didik hany erorientasi pada nilai sehingga apapun yang dilakukannya hanya pada apa yang bias membuat nilainya Bagus, mencontek contoh kecil saja, bahkan jika ditilik substansi dari tujuan pendidikan, belajar keras saat akan ujian tes pun dapat diaktegorikan tindakan yang melenceng dari tujuan awal pendidikan, bukankah tujuan akhir dari sitem pendidikan adalah menghasilkan peserta didik yang mampu mengimplementasikan apa yang didapatkanya dalam proses pendidikan dan bukan Nilai. Untuk sistem pendidikan saat ini, nilai sedikitpun tidak bias menjadi alat pengukur yang representative untuk mengukur seberapa “implementatif” pengetahuannya atau ilmunya. Nilai juga tidk bias mengukur kemampuan spesifik dari seorang individu peserta ajar.
Alasan ketiga adalah pengukuran yang dilakukan lebih sering menggunakan media yang sama sekali tidak mencerminkan dasar yang baik, menjawa pertanyaan teori
Sistem pendidikan berbasis karya begitu kami menyebut solusi dari permasalahan sistem pendidikan selama ini, penilaian yang dilakukan bukan hanya pada kemapuan menjawa soal- soal toritis tetapi berdasarkan apa yang mampu “dibuat” oleh seorang pesertadidik dengan apa yang diperolehnya dalam bangku pendidikan, berdasarkan seberapa penerapan milmu yang diperolehnya dalam pendidikan. Dalam hal ini Sekolah Menengah Kejuraun sudah mendekati sistem ini.
Dalam sistem ini metode ajar  yang digunakan jauh dari penyampaian materi dan menjawa soal- soal latihan. Tapi guru dan peserta didik dituntut untu mampu bersama mengaplikasikan teori yang ada pada proyek bersama dan mengambil hal-hal baru yang ditemukan, bahakan bukan bagaimana mengaplikasikan teori tapi bagaimana menjembatani lahirnya teori aru dari proyek tersebut, kedengarannya mungkin sangat eksakata, tapi pada dasarnya ini sangat aplikatif dan sangat mudah diimplementasikan karna logikanya semua ilmu beujung pada implementasi kehidupan.



Kamis, 24 Februari 2011

baru buat akun blogger..

sebenarnya sudah lama pengen aktif di blog, tapi ternyata, ga bisa optimal.. =(. dan sekarang baru terealisasi dan mencoba lagi..
semoga konsisten..
o iya, buat yang kebetulan mampir disini, mungkin blog ini biasa-biasa aja, silahkan dibaca dan dilihat..
semoga tertarik dan jangan lupa meninggalkan jejak komen ya...
 masih perlu banyak belajar, dan masih perlu banyak jam online..
^_^v