sebenarnya sudah lama pengen aktif di blog, tapi ternyata, ga bisa optimal.. =(. dan sekarang baru terealisasi dan mencoba lagi..
semoga konsisten..
o iya, buat yang kebetulan mampir disini, mungkin blog ini biasa-biasa aja, silahkan dibaca dan dilihat..
semoga tertarik dan jangan lupa meninggalkan jejak komen ya...
masih perlu banyak belajar, dan masih perlu banyak jam online..
^_^v
Kamis, 24 Februari 2011
kehati-hatian (wara')
kenapa kita meski disibukkan dengan pembahasn yang tidak penting, dan hal hal yang jelas-jelas subhat, jika memang kita ragu dengan hukum suatu kegiatan muamalah, kenapa tidak ditinggal kan saja, karna salah satu ciri dari kesempurnaan berislam adalah sikap wara', yaitu menjauhi hal hal yang meragukan dan tentunya juga hal-hal yang sudah jelas keharamannya,
kenapa kita meski disibukkan dengan perdebatanmengenai hukum rokok, rebonding, dan foto prewedding? semuanya jelas ke subhatannya, dari pada kita terjebak dalam perdebatan yang tidak berujung,kenapa kita tidak meninggalkan saja? toh semua sudah jelas tidak ada manfattnya? baik dari sisi kehidupan dunia, bahkan akhirat bukan?
apa sih yang kita dapatkan dengan merokok? yang jelas kita membayar mahal untuk menambahkan penyakit dalam tubuh yang dititipkan Allah pad kita ini,. betapa zalimnya kita
jika dilihat dari beberapa sisi, setidaknya ada dua alasan kenapa kita suka bermain main dengan hal yang subhat,
pertama, memang ada alasan kepentingan tertentu dibalik debat debat panjang hal hal subhat dan tidak bermanfaat, terutama kepentingan ekonomi, contoh kecil, rokok, ketika muncul isu-isu merokok diharamkan oleh MUI, banyak sekali pihak yang menentang, terutama perusahaan perusahaan rokok, dengan dalih melindungi karyawan dari pemecatan, mereka berlindung dibalik punggung para buruhnya untuk tetap menginjeksikan racun pada penduduk bangsa ini. Termasuk membangga-banggakan rokok sebagai sumber pendapatan terbesar Negara melauli cukai. Seolah olah bangsa ini hidup dengan cukai yang mereka bayarkan, sehingga muncul anggapan pada mayoritas masyarakat (terutama perokok) bahwa jika sampai pabrk rokok ditutup maka akan terjadi keguncangan perekonomian bangsa ini. Tapi benarkah, mari sama-sama kita lihat faktanya. Rokok sebagai sumber utama berbagai penyakit, tidak ada yang menolak pernyataan ini, kita semua setuju dengan hal ini, bahkan para perokok dan produsen rokok sekalipun, sehingga semua perusahaan rokok setuju untuk menuliskan “merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin” pada kemasan rokoknya, dan tentunya rokok menjadi penyebab penyakit yang mendominasi penyebab penderitaan pasien pasien yang ada dirumah sakit. Pemerintah mengeluarkan subsidi untuk fasilitas kesehatan setiap tahunnya dan kita tahu jumlahnya tidak sedikit, dan tentunya juga ada alokasi subsidi ini untuk para pasien dengan penyakit yang disebabkan oleh rokok, dan faktanya, setelah diukur, subsidi yang digunakan untuk mengobati pasien pasien korban rokok tersebut jauh lebih besar dari cukai yang dihasilkan dari produksi rokok dinegara ini. Sadar?. Ya inilah faktanya, masihkah kita yakin dengan manfaat merokok. Tapi barangkali fakta ini tidak ada artinya bagi para produsen rokok yang merasa sudah menghapus dosanya dengan CSR nya, pendidikan, olah raga dan sebagainya, lucu, bahkan sangat lucu dan juga fakta ini tidak akan berguna bagi para perokok yang sudah terlanjur dikuasai oleh nikotoin yang menumpuk diparu-parunya. Efek nikotin ternyata tidak hanya pada gangguna kesehatan tapi juga pada otak, sehingga para pecandu rokok mampu menelurkan alasan alasan dan logika-logika bodoh. Tambah lucu.. dan kita baru membahas satu contoh, rokok, belum yang lain, belum dengan rebonding, belum foto prewedding.. ha..ha..
hal kedua yang menjadi alasan orang orang yang suka bermain main dengan hal –hal subhat adalah kebiasaan berdebat, atau suka protes tepatnya, orang orang seperti ini biasanya memandang setiap kebijakan sebagai hasil dari kebodohan orang lain, walaupun sebenarnya orang se[erti ini mampu melihat hal positif dari kebijakan tersebut, namun ia tidak senga bila tidak memprotes kebijakan baru, selalu ada nilai negative dari kebijakan kebijakan. Hobi berdebat dan memposisikan diri sebagai oposisis pembaut kebijakan, selalu berasumsi bahwa pembuat kebijakan adalah kumpulan koruptor yang hanya berfikir untuk kepentingan sendiri, benarkah? Orang orang seperti ini tak bisa dilawan dengan fakta, apalagi agama (landasan FIqh), orang orang seperti ini melandasi segala opininya dengan logika, baik dan benar secar ukuran otak dan pemikiran, memojokkan pihak lain dan memihak pada pihak lainnya. Dan mujur saja kalau mereka bukan sedang menjilat pada pihak tertentu, karena mayoritas orang seperti ini sedang berupaya menarik perhatian pihak tertentu (menjilat), atau minimal sedang mencari popularitas..
kembali ke topik utama, hal hal subhat (meragukan) sering menjadi bahan perdebatan karena memang batasan antara benar, salah dan halal haram ada pada hal hal seperti ini, namun seperti disimpulkan diatas, dalam hal ini seorang muslim harus mengambil jalur aman dengan bersikap konservatif, atau tepatnya berhati hati. Sikap nyatanya adalah dengan menghindari dan tidak melakukan hal hal subhat tersebut, bagi seorang muslim, hal hal subhat akan lebih baik bila dianggap haram saja, terkait dengan kemungkinan haramnya hal tersebut. Jika diambil permisalan dengan bersih dan tidak bersih pada makanan, apa yang akan kita lakukan jika sepotong roti yang sedang kita makan jatuh kelantai?, secara fisik tidak terlihat makanan tersebut kotor? Mayoritas kita akan lebih memilih untuk tidak memakan roti tersebut, alasan utamanya adalah keraguan apakah makanan tersebut masih benar benar-bersih?, hanya sedikit yang mau mengambil risiko dengan berasumsi makanan tersebut masih bersih, benarkan demikian??
Lalu apa bedanya dengan halal-haram, apakah kita mau mengambil risiko dibakar di neraka dengan asumsi asumsi (logika) bahwa merokok, rebonding dsb itu halal???
kenapa kita meski disibukkan dengan perdebatanmengenai hukum rokok, rebonding, dan foto prewedding? semuanya jelas ke subhatannya, dari pada kita terjebak dalam perdebatan yang tidak berujung,kenapa kita tidak meninggalkan saja? toh semua sudah jelas tidak ada manfattnya? baik dari sisi kehidupan dunia, bahkan akhirat bukan?
apa sih yang kita dapatkan dengan merokok? yang jelas kita membayar mahal untuk menambahkan penyakit dalam tubuh yang dititipkan Allah pad kita ini,. betapa zalimnya kita
jika dilihat dari beberapa sisi, setidaknya ada dua alasan kenapa kita suka bermain main dengan hal yang subhat,
pertama, memang ada alasan kepentingan tertentu dibalik debat debat panjang hal hal subhat dan tidak bermanfaat, terutama kepentingan ekonomi, contoh kecil, rokok, ketika muncul isu-isu merokok diharamkan oleh MUI, banyak sekali pihak yang menentang, terutama perusahaan perusahaan rokok, dengan dalih melindungi karyawan dari pemecatan, mereka berlindung dibalik punggung para buruhnya untuk tetap menginjeksikan racun pada penduduk bangsa ini. Termasuk membangga-banggakan rokok sebagai sumber pendapatan terbesar Negara melauli cukai. Seolah olah bangsa ini hidup dengan cukai yang mereka bayarkan, sehingga muncul anggapan pada mayoritas masyarakat (terutama perokok) bahwa jika sampai pabrk rokok ditutup maka akan terjadi keguncangan perekonomian bangsa ini. Tapi benarkah, mari sama-sama kita lihat faktanya. Rokok sebagai sumber utama berbagai penyakit, tidak ada yang menolak pernyataan ini, kita semua setuju dengan hal ini, bahkan para perokok dan produsen rokok sekalipun, sehingga semua perusahaan rokok setuju untuk menuliskan “merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin” pada kemasan rokoknya, dan tentunya rokok menjadi penyebab penyakit yang mendominasi penyebab penderitaan pasien pasien yang ada dirumah sakit. Pemerintah mengeluarkan subsidi untuk fasilitas kesehatan setiap tahunnya dan kita tahu jumlahnya tidak sedikit, dan tentunya juga ada alokasi subsidi ini untuk para pasien dengan penyakit yang disebabkan oleh rokok, dan faktanya, setelah diukur, subsidi yang digunakan untuk mengobati pasien pasien korban rokok tersebut jauh lebih besar dari cukai yang dihasilkan dari produksi rokok dinegara ini. Sadar?. Ya inilah faktanya, masihkah kita yakin dengan manfaat merokok. Tapi barangkali fakta ini tidak ada artinya bagi para produsen rokok yang merasa sudah menghapus dosanya dengan CSR nya, pendidikan, olah raga dan sebagainya, lucu, bahkan sangat lucu dan juga fakta ini tidak akan berguna bagi para perokok yang sudah terlanjur dikuasai oleh nikotoin yang menumpuk diparu-parunya. Efek nikotin ternyata tidak hanya pada gangguna kesehatan tapi juga pada otak, sehingga para pecandu rokok mampu menelurkan alasan alasan dan logika-logika bodoh. Tambah lucu.. dan kita baru membahas satu contoh, rokok, belum yang lain, belum dengan rebonding, belum foto prewedding.. ha..ha..
hal kedua yang menjadi alasan orang orang yang suka bermain main dengan hal –hal subhat adalah kebiasaan berdebat, atau suka protes tepatnya, orang orang seperti ini biasanya memandang setiap kebijakan sebagai hasil dari kebodohan orang lain, walaupun sebenarnya orang se[erti ini mampu melihat hal positif dari kebijakan tersebut, namun ia tidak senga bila tidak memprotes kebijakan baru, selalu ada nilai negative dari kebijakan kebijakan. Hobi berdebat dan memposisikan diri sebagai oposisis pembaut kebijakan, selalu berasumsi bahwa pembuat kebijakan adalah kumpulan koruptor yang hanya berfikir untuk kepentingan sendiri, benarkah? Orang orang seperti ini tak bisa dilawan dengan fakta, apalagi agama (landasan FIqh), orang orang seperti ini melandasi segala opininya dengan logika, baik dan benar secar ukuran otak dan pemikiran, memojokkan pihak lain dan memihak pada pihak lainnya. Dan mujur saja kalau mereka bukan sedang menjilat pada pihak tertentu, karena mayoritas orang seperti ini sedang berupaya menarik perhatian pihak tertentu (menjilat), atau minimal sedang mencari popularitas..
kembali ke topik utama, hal hal subhat (meragukan) sering menjadi bahan perdebatan karena memang batasan antara benar, salah dan halal haram ada pada hal hal seperti ini, namun seperti disimpulkan diatas, dalam hal ini seorang muslim harus mengambil jalur aman dengan bersikap konservatif, atau tepatnya berhati hati. Sikap nyatanya adalah dengan menghindari dan tidak melakukan hal hal subhat tersebut, bagi seorang muslim, hal hal subhat akan lebih baik bila dianggap haram saja, terkait dengan kemungkinan haramnya hal tersebut. Jika diambil permisalan dengan bersih dan tidak bersih pada makanan, apa yang akan kita lakukan jika sepotong roti yang sedang kita makan jatuh kelantai?, secara fisik tidak terlihat makanan tersebut kotor? Mayoritas kita akan lebih memilih untuk tidak memakan roti tersebut, alasan utamanya adalah keraguan apakah makanan tersebut masih benar benar-bersih?, hanya sedikit yang mau mengambil risiko dengan berasumsi makanan tersebut masih bersih, benarkan demikian??
Lalu apa bedanya dengan halal-haram, apakah kita mau mengambil risiko dibakar di neraka dengan asumsi asumsi (logika) bahwa merokok, rebonding dsb itu halal???
kehati-hatian (wara')
kenapa kita meski disibukkan dengan pembahasn yang tidak penting, dan hal hal yang jelas-jelas subhat, jika memang kita ragu dengan hukum suatu kegiatan muamalah, kenapa tidak ditinggal kan saja, karna salah satu ciri dari kesempurnaan berislam adalah sikap wara', yaitu menjauhi hal hal yang meragukan dan tentunya juga hal-hal yang sudah jelas keharamannya,
kenapa kita meski disibukkan dengan perdebatanmengenai hukum rokok, rebonding, dan foto prewedding? semuanya jelas ke subhatannya, dari pada kita terjebak dalam perdebatan yang tidak berujung,kenapa kita tidak meninggalkan saja? toh semua sudah jelas tidak ada manfattnya? baik dari sisi kehidupan dunia, bahkan akhirat bukan?
apa sih yang kita dapatkan dengan merokok? yang jelas kita membayar mahal untuk menambahkan penyakit dalam tubuh yang dititipkan Allah pad kita ini,. betapa zalimnya kita
jika dilihat dari beberapa sisi, setidaknya ada dua alasan kenapa kita suka bermain main dengan hal yang subhat,
pertama, memang ada alasan kepentingan tertentu dibalik debat debat panjang hal hal subhat dan tidak bermanfaat, terutama kepentingan ekonomi, contoh kecil, rokok, ketika muncul isu-isu merokok diharamkan oleh MUI, banyak sekali pihak yang menentang, terutama perusahaan perusahaan rokok, dengan dalih melindungi karyawan dari pemecatan, mereka berlindung dibalik punggung para buruhnya untuk tetap menginjeksikan racun pada penduduk bangsa ini. Termasuk membangga-banggakan rokok sebagai sumber pendapatan terbesar Negara melauli cukai. Seolah olah bangsa ini hidup dengan cukai yang mereka bayarkan, sehingga muncul anggapan pada mayoritas masyarakat (terutama perokok) bahwa jika sampai pabrk rokok ditutup maka akan terjadi keguncangan perekonomian bangsa ini. Tapi benarkah, mari sama-sama kita lihat faktanya. Rokok sebagai sumber utama berbagai penyakit, tidak ada yang menolak pernyataan ini, kita semua setuju dengan hal ini, bahkan para perokok dan produsen rokok sekalipun, sehingga semua perusahaan rokok setuju untuk menuliskan “merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin” pada kemasan rokoknya, dan tentunya rokok menjadi penyebab penyakit yang mendominasi penyebab penderitaan pasien pasien yang ada dirumah sakit. Pemerintah mengeluarkan subsidi untuk fasilitas kesehatan setiap tahunnya dan kita tahu jumlahnya tidak sedikit, dan tentunya juga ada alokasi subsidi ini untuk para pasien dengan penyakit yang disebabkan oleh rokok, dan faktanya, setelah diukur, subsidi yang digunakan untuk mengobati pasien pasien korban rokok tersebut jauh lebih besar dari cukai yang dihasilkan dari produksi rokok dinegara ini. Sadar?. Ya inilah faktanya, masihkah kita yakin dengan manfaat merokok. Tapi barangkali fakta ini tidak ada artinya bagi para produsen rokok yang merasa sudah menghapus dosanya dengan CSR nya, pendidikan, olah raga dan sebagainya, lucu, bahkan sangat lucu dan juga fakta ini tidak akan berguna bagi para perokok yang sudah terlanjur dikuasai oleh nikotoin yang menumpuk diparu-parunya. Efek nikotin ternyata tidak hanya pada gangguna kesehatan tapi juga pada otak, sehingga para pecandu rokok mampu menelurkan alasan alasan dan logika-logika bodoh. Tambah lucu.. dan kita baru membahas satu contoh, rokok, belum yang lain, belum dengan rebonding, belum foto prewedding.. ha..ha..
hal kedua yang menjadi alasan orang orang yang suka bermain main dengan hal –hal subhat adalah kebiasaan berdebat, atau suka protes tepatnya, orang orang seperti ini biasanya memandang setiap kebijakan sebagai hasil dari kebodohan orang lain, walaupun sebenarnya orang se[erti ini mampu melihat hal positif dari kebijakan tersebut, namun ia tidak senga bila tidak memprotes kebijakan baru, selalu ada nilai negative dari kebijakan kebijakan. Hobi berdebat dan memposisikan diri sebagai oposisis pembaut kebijakan, selalu berasumsi bahwa pembuat kebijakan adalah kumpulan koruptor yang hanya berfikir untuk kepentingan sendiri, benarkah? Orang orang seperti ini tak bisa dilawan dengan fakta, apalagi agama (landasan FIqh), orang orang seperti ini melandasi segala opininya dengan logika, baik dan benar secar ukuran otak dan pemikiran, memojokkan pihak lain dan memihak pada pihak lainnya. Dan mujur saja kalau mereka bukan sedang menjilat pada pihak tertentu, karena mayoritas orang seperti ini sedang berupaya menarik perhatian pihak tertentu (menjilat), atau minimal sedang mencari popularitas..
kembali ke topik utama, hal hal subhat (meragukan) sering menjadi bahan perdebatan karena memang batasan antara benar, salah dan halal haram ada pada hal hal seperti ini, namun seperti disimpulkan diatas, dalam hal ini seorang muslim harus mengambil jalur aman dengan bersikap konservatif, atau tepatnya berhati hati. Sikap nyatanya adalah dengan menghindari dan tidak melakukan hal hal subhat tersebut, bagi seorang muslim, hal hal subhat akan lebih baik bila dianggap haram saja, terkait dengan kemungkinan haramnya hal tersebut. Jika diambil permisalan dengan bersih dan tidak bersih pada makanan, apa yang akan kita lakukan jika sepotong roti yang sedang kita makan jatuh kelantai?, secara fisik tidak terlihat makanan tersebut kotor? Mayoritas kita akan lebih memilih untuk tidak memakan roti tersebut, alasan utamanya adalah keraguan apakah makanan tersebut masih benar benar-bersih?, hanya sedikit yang mau mengambil risiko dengan berasumsi makanan tersebut masih bersih, benarkan demikian??
Lalu apa bedanya dengan halal-haram, apakah kita mau mengambil risiko dibakar di neraka dengan asumsi asumsi (logika) bahwa merokok, rebonding dsb itu halal???
kenapa kita meski disibukkan dengan perdebatanmengenai hukum rokok, rebonding, dan foto prewedding? semuanya jelas ke subhatannya, dari pada kita terjebak dalam perdebatan yang tidak berujung,kenapa kita tidak meninggalkan saja? toh semua sudah jelas tidak ada manfattnya? baik dari sisi kehidupan dunia, bahkan akhirat bukan?
apa sih yang kita dapatkan dengan merokok? yang jelas kita membayar mahal untuk menambahkan penyakit dalam tubuh yang dititipkan Allah pad kita ini,. betapa zalimnya kita
jika dilihat dari beberapa sisi, setidaknya ada dua alasan kenapa kita suka bermain main dengan hal yang subhat,
pertama, memang ada alasan kepentingan tertentu dibalik debat debat panjang hal hal subhat dan tidak bermanfaat, terutama kepentingan ekonomi, contoh kecil, rokok, ketika muncul isu-isu merokok diharamkan oleh MUI, banyak sekali pihak yang menentang, terutama perusahaan perusahaan rokok, dengan dalih melindungi karyawan dari pemecatan, mereka berlindung dibalik punggung para buruhnya untuk tetap menginjeksikan racun pada penduduk bangsa ini. Termasuk membangga-banggakan rokok sebagai sumber pendapatan terbesar Negara melauli cukai. Seolah olah bangsa ini hidup dengan cukai yang mereka bayarkan, sehingga muncul anggapan pada mayoritas masyarakat (terutama perokok) bahwa jika sampai pabrk rokok ditutup maka akan terjadi keguncangan perekonomian bangsa ini. Tapi benarkah, mari sama-sama kita lihat faktanya. Rokok sebagai sumber utama berbagai penyakit, tidak ada yang menolak pernyataan ini, kita semua setuju dengan hal ini, bahkan para perokok dan produsen rokok sekalipun, sehingga semua perusahaan rokok setuju untuk menuliskan “merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin” pada kemasan rokoknya, dan tentunya rokok menjadi penyebab penyakit yang mendominasi penyebab penderitaan pasien pasien yang ada dirumah sakit. Pemerintah mengeluarkan subsidi untuk fasilitas kesehatan setiap tahunnya dan kita tahu jumlahnya tidak sedikit, dan tentunya juga ada alokasi subsidi ini untuk para pasien dengan penyakit yang disebabkan oleh rokok, dan faktanya, setelah diukur, subsidi yang digunakan untuk mengobati pasien pasien korban rokok tersebut jauh lebih besar dari cukai yang dihasilkan dari produksi rokok dinegara ini. Sadar?. Ya inilah faktanya, masihkah kita yakin dengan manfaat merokok. Tapi barangkali fakta ini tidak ada artinya bagi para produsen rokok yang merasa sudah menghapus dosanya dengan CSR nya, pendidikan, olah raga dan sebagainya, lucu, bahkan sangat lucu dan juga fakta ini tidak akan berguna bagi para perokok yang sudah terlanjur dikuasai oleh nikotoin yang menumpuk diparu-parunya. Efek nikotin ternyata tidak hanya pada gangguna kesehatan tapi juga pada otak, sehingga para pecandu rokok mampu menelurkan alasan alasan dan logika-logika bodoh. Tambah lucu.. dan kita baru membahas satu contoh, rokok, belum yang lain, belum dengan rebonding, belum foto prewedding.. ha..ha..
hal kedua yang menjadi alasan orang orang yang suka bermain main dengan hal –hal subhat adalah kebiasaan berdebat, atau suka protes tepatnya, orang orang seperti ini biasanya memandang setiap kebijakan sebagai hasil dari kebodohan orang lain, walaupun sebenarnya orang se[erti ini mampu melihat hal positif dari kebijakan tersebut, namun ia tidak senga bila tidak memprotes kebijakan baru, selalu ada nilai negative dari kebijakan kebijakan. Hobi berdebat dan memposisikan diri sebagai oposisis pembaut kebijakan, selalu berasumsi bahwa pembuat kebijakan adalah kumpulan koruptor yang hanya berfikir untuk kepentingan sendiri, benarkah? Orang orang seperti ini tak bisa dilawan dengan fakta, apalagi agama (landasan FIqh), orang orang seperti ini melandasi segala opininya dengan logika, baik dan benar secar ukuran otak dan pemikiran, memojokkan pihak lain dan memihak pada pihak lainnya. Dan mujur saja kalau mereka bukan sedang menjilat pada pihak tertentu, karena mayoritas orang seperti ini sedang berupaya menarik perhatian pihak tertentu (menjilat), atau minimal sedang mencari popularitas..
kembali ke topik utama, hal hal subhat (meragukan) sering menjadi bahan perdebatan karena memang batasan antara benar, salah dan halal haram ada pada hal hal seperti ini, namun seperti disimpulkan diatas, dalam hal ini seorang muslim harus mengambil jalur aman dengan bersikap konservatif, atau tepatnya berhati hati. Sikap nyatanya adalah dengan menghindari dan tidak melakukan hal hal subhat tersebut, bagi seorang muslim, hal hal subhat akan lebih baik bila dianggap haram saja, terkait dengan kemungkinan haramnya hal tersebut. Jika diambil permisalan dengan bersih dan tidak bersih pada makanan, apa yang akan kita lakukan jika sepotong roti yang sedang kita makan jatuh kelantai?, secara fisik tidak terlihat makanan tersebut kotor? Mayoritas kita akan lebih memilih untuk tidak memakan roti tersebut, alasan utamanya adalah keraguan apakah makanan tersebut masih benar benar-bersih?, hanya sedikit yang mau mengambil risiko dengan berasumsi makanan tersebut masih bersih, benarkan demikian??
Lalu apa bedanya dengan halal-haram, apakah kita mau mengambil risiko dibakar di neraka dengan asumsi asumsi (logika) bahwa merokok, rebonding dsb itu halal???
apa manfaatnya
Pertanyaan pertama, jika ada seorang mahasiswa (khususnya pria) masuk kuliah dengan terkantuk-kantuk, mata sayu dan rambut acak-acakan karna terlambat bangun, bisakah anda menebak apa yang dilakukannya semalam?
Tepat!!!, nonton bola.. tim kesayangan akan berhadapan dengan lawan tangguh dimusim ini
Pertanyaan kedua, berapa persen dari mereka yang menyempatkan atau secara kasar kebetulan teringat untuk shalat malam ketika menonton pertandingan bola tersebut? Bisa diperkirakan dengan mudah bukan..
Dan yang lebih memiriskan lagi ada berapa persen yang memang meniatkan bangun malam untuk shlat tahajud dan qiyamulail lainnya??
Sekarang bandingkan persentasenya????
Kita sudah terhipnotis dengan budaya budaya yang awalnya memang positif olah raga tapi kini menjadi sarana pembodohan dan pengalihan terhadap nilai-nilaia ibadah dalam islam, mereka mencoba membuat kita lalai dengan Allah dan jati diri kita sebagai muslim..
Dengan dalih hobi, mereka berupaya menyedot perhatian dan kekakuman kita umat muslim dengan budaya-budaya jahiliah, penulis akan coba menalarkan “manfaat” dari menonton bola:
Apakah dengan menonton bola, tubuh dan raga si penonton akan sehat dan bugar layaknya si pemain bola? Penulis merasa belum ada penelitian yang menyebutkan manfaat olah raga dari menonton pertandingan sepak bola, apa lagi sampai begadang, justru penulis merasa hal sebaliknya yang akan terjadi, tidak hanya fisik, tetapi juga jiwa akan sangat terganggu dengan kebiasaan begadang ini, kurang tidur, dan hasilnya seperti yang penulis sampaikan diawal tulisan, toh yang jadi korban adalah kembali, kita.
Dan kalau mau ditilik secara sederahana saja, event-event sepak bola sudah semakin jaiuh dari unsure olah raga dan memiliki kecenderungan pada dunia bisnis, sebut saja iklan, transfer pemain dan jual beli klub, tidak hanya itu, jiwa olah raga dari event-event sepak bola sudah ternodai oleh nafsu-nafsu popularitas, gagah-gagahan dan juga persaingan yang bahkan mengundang tindakan anarkis, baik dilapangan oleh pemain ataupun diluar, seperti kericuhan dan bentrokan supoorter yang begitu fanatiknya, melebihi fanatisme terhadap perjuangan nasionalis . coba tebak siapa lagi yang menjadi korban? Kita!!!
Dampak lain, terjerumusnya kita dalam fanatisme sempit yang mengkotak-kotakan kita, klub supporter lah namanya.. coba kita berpikir lebih dalam apakah ada sisi positifnya? Baik dari sisi materi ataupun dari sisi non materi? Yang ada hanya kita terpecah belah dengan fanatisme klub sepakbola..
Tepat!!!, nonton bola.. tim kesayangan akan berhadapan dengan lawan tangguh dimusim ini
Pertanyaan kedua, berapa persen dari mereka yang menyempatkan atau secara kasar kebetulan teringat untuk shalat malam ketika menonton pertandingan bola tersebut? Bisa diperkirakan dengan mudah bukan..
Dan yang lebih memiriskan lagi ada berapa persen yang memang meniatkan bangun malam untuk shlat tahajud dan qiyamulail lainnya??
Sekarang bandingkan persentasenya????
Kita sudah terhipnotis dengan budaya budaya yang awalnya memang positif olah raga tapi kini menjadi sarana pembodohan dan pengalihan terhadap nilai-nilaia ibadah dalam islam, mereka mencoba membuat kita lalai dengan Allah dan jati diri kita sebagai muslim..
Dengan dalih hobi, mereka berupaya menyedot perhatian dan kekakuman kita umat muslim dengan budaya-budaya jahiliah, penulis akan coba menalarkan “manfaat” dari menonton bola:
Apakah dengan menonton bola, tubuh dan raga si penonton akan sehat dan bugar layaknya si pemain bola? Penulis merasa belum ada penelitian yang menyebutkan manfaat olah raga dari menonton pertandingan sepak bola, apa lagi sampai begadang, justru penulis merasa hal sebaliknya yang akan terjadi, tidak hanya fisik, tetapi juga jiwa akan sangat terganggu dengan kebiasaan begadang ini, kurang tidur, dan hasilnya seperti yang penulis sampaikan diawal tulisan, toh yang jadi korban adalah kembali, kita.
Dan kalau mau ditilik secara sederahana saja, event-event sepak bola sudah semakin jaiuh dari unsure olah raga dan memiliki kecenderungan pada dunia bisnis, sebut saja iklan, transfer pemain dan jual beli klub, tidak hanya itu, jiwa olah raga dari event-event sepak bola sudah ternodai oleh nafsu-nafsu popularitas, gagah-gagahan dan juga persaingan yang bahkan mengundang tindakan anarkis, baik dilapangan oleh pemain ataupun diluar, seperti kericuhan dan bentrokan supoorter yang begitu fanatiknya, melebihi fanatisme terhadap perjuangan nasionalis . coba tebak siapa lagi yang menjadi korban? Kita!!!
Dampak lain, terjerumusnya kita dalam fanatisme sempit yang mengkotak-kotakan kita, klub supporter lah namanya.. coba kita berpikir lebih dalam apakah ada sisi positifnya? Baik dari sisi materi ataupun dari sisi non materi? Yang ada hanya kita terpecah belah dengan fanatisme klub sepakbola..
kenapa seperti ini
Iniah negeri kita.. jangan malu, karna inilah realitanya…
Apa sebenarnya yang kita inginkan disini? Lupakah kita dengan cita-cita besar para pendiri bangsa ini, atau kita justru pura-pura menjadi korban yang terjebak dengan segala kebobrokan bangsa ini.. lalu merasa tidak bersalah dan tidak ingin ikut bertanggung jawab menyelamatkan kembali negeri ini, atau jangan jangan kita justru adalah bagian dari sistem yang memanfaatkan kebobrokan negeri ini, kebobrokan moral dan tidak adanya nilai-nilai etis yang dipahami oleh anak negeri ini.
Menjadi bagian dari bangsa yang besar ini adalah sebuah kesyukuran, ternyata negeri kita ini adalah negeri dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, negeri dengan generasi islamnya menjadi harapan bagi seluruh umat islam menjadi penggerak kembalinya kejayaan islam (amiiin).
Tapi apa permasalahannya ketika justru negara ini menjadi salah satu negeri terkorup di dunia, menjadi negeri dengan pemuda yang tidak bermoral. Apakah islam yang salah??? TIDAK… karna memang penduduk negeri yang mayoritas islam ini, Al Quran dirumahnya sudah dipenuhi dengan abu, mukenanya masih wangi dan bersih, sajadahnya masih baru dan buku-buku hanya menjadi pajangan ruangan tamu… (lucu) lalu mereka serta merta menyalahkan sistem pendidikan, menyalahkan pemerintah yang korup sementara mereka sendiri adalah manusia yang tidak pernah mengerti arti kejujuran, masih mencontek saat ujian, mengurangi timbangan, memakan riba, percaya takhayul dan kufarat lainnya.. (Islamkah yang salah??)
Coba tanya diri pribadi, apakah kita sudah menjadi generasi yang sudah berupaya menjadi pelaksana syariat islam, atau justru kita ada pada garda depan tukang protes kebijakan pemerintah,menjadi orang yang merasa kehidupan agama itu terpisah dengan politik, ekonomi, sosial budaya (sekuler) dan sebagainya atau menjadi pejuang demo bayaran dan menjadi orang yang ujiannya mencontek, lalu salahkah pembuat kebijakan jika orang yang akan menjalankan kebijakan adalah orang yang tidak pernah percaya dengan pembuat kebijakan dan pada ujungnya menjadi lingkaran setan kebobrokan negeri ini , kita hanya sibuk dengan kekuasaan, sibuk dengan uang dan sibuk dengan ijazah, pantas saja setiap kebijakan tidak pernah benar, karna orang yang memprotesnya juga tidak benar tapi merasa paling benar (tambah lucu)
Korupsi bukan hanya masalah pemerintahan, ia ada di manapun, tak terkecuali dikampus, korupsi hadir ketika ujian dilaksanakan, korupsi juga hadir saat melihat jimat… jadi pantaskah kita merasa kritikus pemerintahan korup ketika ujian kita masih mencontek atau ketika kita masih pakai jimat..
Apakah islam pernah mengajarkan umatnya untuk tidak jujur, islam juga tidak pernah mengaarkan kita umatnya untuk “mengakali” ujian, atau pernahkah islam mengajarkan kita untuk berorientasi pada ijazah semata?, islam mengajarkan kita untuk mencari ilmu, bukan mencari ijazah, gelar dan sebagainya..
Lalu jika negeri ini menjadi nominasi negeri terkorup, apakah yang salah adalah Islam? Atau kita umat Islam yang tidak pernah mau tau lagi dengan syariat Islam???
Apa sebenarnya yang kita inginkan disini? Lupakah kita dengan cita-cita besar para pendiri bangsa ini, atau kita justru pura-pura menjadi korban yang terjebak dengan segala kebobrokan bangsa ini.. lalu merasa tidak bersalah dan tidak ingin ikut bertanggung jawab menyelamatkan kembali negeri ini, atau jangan jangan kita justru adalah bagian dari sistem yang memanfaatkan kebobrokan negeri ini, kebobrokan moral dan tidak adanya nilai-nilai etis yang dipahami oleh anak negeri ini.
Menjadi bagian dari bangsa yang besar ini adalah sebuah kesyukuran, ternyata negeri kita ini adalah negeri dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, negeri dengan generasi islamnya menjadi harapan bagi seluruh umat islam menjadi penggerak kembalinya kejayaan islam (amiiin).
Tapi apa permasalahannya ketika justru negara ini menjadi salah satu negeri terkorup di dunia, menjadi negeri dengan pemuda yang tidak bermoral. Apakah islam yang salah??? TIDAK… karna memang penduduk negeri yang mayoritas islam ini, Al Quran dirumahnya sudah dipenuhi dengan abu, mukenanya masih wangi dan bersih, sajadahnya masih baru dan buku-buku hanya menjadi pajangan ruangan tamu… (lucu) lalu mereka serta merta menyalahkan sistem pendidikan, menyalahkan pemerintah yang korup sementara mereka sendiri adalah manusia yang tidak pernah mengerti arti kejujuran, masih mencontek saat ujian, mengurangi timbangan, memakan riba, percaya takhayul dan kufarat lainnya.. (Islamkah yang salah??)
Coba tanya diri pribadi, apakah kita sudah menjadi generasi yang sudah berupaya menjadi pelaksana syariat islam, atau justru kita ada pada garda depan tukang protes kebijakan pemerintah,menjadi orang yang merasa kehidupan agama itu terpisah dengan politik, ekonomi, sosial budaya (sekuler) dan sebagainya atau menjadi pejuang demo bayaran dan menjadi orang yang ujiannya mencontek, lalu salahkah pembuat kebijakan jika orang yang akan menjalankan kebijakan adalah orang yang tidak pernah percaya dengan pembuat kebijakan dan pada ujungnya menjadi lingkaran setan kebobrokan negeri ini , kita hanya sibuk dengan kekuasaan, sibuk dengan uang dan sibuk dengan ijazah, pantas saja setiap kebijakan tidak pernah benar, karna orang yang memprotesnya juga tidak benar tapi merasa paling benar (tambah lucu)
Korupsi bukan hanya masalah pemerintahan, ia ada di manapun, tak terkecuali dikampus, korupsi hadir ketika ujian dilaksanakan, korupsi juga hadir saat melihat jimat… jadi pantaskah kita merasa kritikus pemerintahan korup ketika ujian kita masih mencontek atau ketika kita masih pakai jimat..
Apakah islam pernah mengajarkan umatnya untuk tidak jujur, islam juga tidak pernah mengaarkan kita umatnya untuk “mengakali” ujian, atau pernahkah islam mengajarkan kita untuk berorientasi pada ijazah semata?, islam mengajarkan kita untuk mencari ilmu, bukan mencari ijazah, gelar dan sebagainya..
Lalu jika negeri ini menjadi nominasi negeri terkorup, apakah yang salah adalah Islam? Atau kita umat Islam yang tidak pernah mau tau lagi dengan syariat Islam???
benar atau salah tergantung siapa yang berkuasa..
Benar dan salah sangat relatif
Sangat setuju dengan pernyataan diatas, benar dan salah sesuatu itu sangat tergantung dari sudut pandang dan bagaimana penyikapan terhadap objek yang akan dinilai kebenaran atau kesalahannya.
Namun yang ingin dibahas kali ini adalah, bahwa benar dan salah itu tergantung pada siapa yang berkuasa. Dan sangat tergantung lagi dengan pola pikir penguasa tersebut.
Tidak perlu dalam sebuah negara dan bangsa, kita ambil contoh kecil dalam sebuah kelas mata kuliah saja, siapa yang berkuasa?? Siapa lagi kalau bukan dosen (dan saya yakin pembaca pun sangat setuju dengan pernyataan ini), sehingga dosenlah yang akan menetukan benar atau salahnya segala sesuatu yang terjadi selama perkuliahan, termasuk benar atau salahnya jawaban mahasisiwa saat ujian, sepandai apapun mahasiswa menjelaskan bahwa jawabannya adalah benar, namun jika dosen yang sudah menyalahkan, sangat kecil kemungkinan jawaban itu akan dibenarkan atau dikoreksi. Dan termasuk hal- hal lain dalam perkuliahan, benar atau salah pendapat seorang mahasiswa dalam sebuah seminar atau presentasi tergantung juga dengan pola pikir dan pendapat dosen.
Beberapa alasan yang menyebabkan hal ini terjadi diantaranya adalah, pertama, adanya asumsi bahwa dosen lebih cerdas dibanding mahasiswa ,kita akan mengakui bahwa dosen lebih mengetahui dan berpengalaman dibanding mahasiswa, tapi untuk pernyatan bahwa dosen lebih cerdas dibanding mahasiswa itu kurang dapat disepakati. Pola pikir seorang dosen tidak hanya sangat dipengaruhi luasnya pengetahuan , pengalaman dosen, dan banyaknya ilmu yang dimiliki, tetapi juga dipengaruh lingkungan dosen, baik selama masa studinya dahulu , sikap dosennya terdahulu terhadap sang dosen dan lingkungan kemajuan teknologi dimasanya dahulu.
Sebuah contoh sederhana, seorang dosen senior (sering juga diartikan dosen yang sudah lama mengajar, atau dosen yang sudah tua) sering berpendapat bahwa kuliah tutorial dan langsung menggunakan bahasa verbal adalah sistem perkuliahan terbaik, tanpa presentasi dan slide-slide power point dan mohon maaf bahkan ada sebagian dosen senior itu yang beranggapan pengguana teknologi proyektor( presentasi) adalah sistem malas, dan tidak efektif. Benarkah?? Ini adalah ukuran benar salah yang dianut seorang dosen senior. Berbeda lagi dengan pemikiran seorang dosen junior mengutamakan pengguanaan sarana teknologi dengan semaksimal mungkin tentunya akan sedikit kurang setuju dengan pihak-pihak yang anti dengan teknologi, menganggap pemikiran seperti itu adalah pemikiran kolot yang salah. Belum lagi pernyataan-pernyataan seorang dosen yang menyalahkanpendapat dosen lain didepan mahasiswa..
Jadi, sebenarnya yang menjadi koban adalah mahasiswa (walaupun tidak seutuhnya), mahasiswa dihadapkan dengan doktrin yang berbeda dan bahkan bertolak belakang pada saat yang sama, jadi wajar saja ketika tujuan utama mahasiswa berubah haluan menjadi mencari nilai dan ijazah karena memang untuk mencari ilmu dan pemahaman sudah dikotori dengan perang doktrin antar dosen yang tidak mungkin dianut seorang mahasiswa dalam satu waktu yang sama (namun hal ini tidak bisa menjadi alasan pembenaran melakukan segala hal untuk mencapai tujuan kuliah-nilai, red).
Ukuran benar dan salah menjadi kabur dalam benak mahasiswa, dan penggunaan metode kontijensi sering dipakai mahasiswa, yaitu menggunakan strategi kuliah dan belajar yang berbeda untuk dosen yang berbeda, sehingga lahirlah mahasiswa berkepribadian ganda, tidak idealis, takut salah dan oportunis dan tidak mau disalahkan.
Berbicara mengenai kekuasaan kita akan selalu bicara power, maka power utama dosen adalah nilai, apa lagi yang ditakutkan mahasiswa selain tidak lulus mata kuliah (yang punya multiplier effect).
Sangat setuju dengan pernyataan diatas, benar dan salah sesuatu itu sangat tergantung dari sudut pandang dan bagaimana penyikapan terhadap objek yang akan dinilai kebenaran atau kesalahannya.
Namun yang ingin dibahas kali ini adalah, bahwa benar dan salah itu tergantung pada siapa yang berkuasa. Dan sangat tergantung lagi dengan pola pikir penguasa tersebut.
Tidak perlu dalam sebuah negara dan bangsa, kita ambil contoh kecil dalam sebuah kelas mata kuliah saja, siapa yang berkuasa?? Siapa lagi kalau bukan dosen (dan saya yakin pembaca pun sangat setuju dengan pernyataan ini), sehingga dosenlah yang akan menetukan benar atau salahnya segala sesuatu yang terjadi selama perkuliahan, termasuk benar atau salahnya jawaban mahasisiwa saat ujian, sepandai apapun mahasiswa menjelaskan bahwa jawabannya adalah benar, namun jika dosen yang sudah menyalahkan, sangat kecil kemungkinan jawaban itu akan dibenarkan atau dikoreksi. Dan termasuk hal- hal lain dalam perkuliahan, benar atau salah pendapat seorang mahasiswa dalam sebuah seminar atau presentasi tergantung juga dengan pola pikir dan pendapat dosen.
Beberapa alasan yang menyebabkan hal ini terjadi diantaranya adalah, pertama, adanya asumsi bahwa dosen lebih cerdas dibanding mahasiswa ,kita akan mengakui bahwa dosen lebih mengetahui dan berpengalaman dibanding mahasiswa, tapi untuk pernyatan bahwa dosen lebih cerdas dibanding mahasiswa itu kurang dapat disepakati. Pola pikir seorang dosen tidak hanya sangat dipengaruhi luasnya pengetahuan , pengalaman dosen, dan banyaknya ilmu yang dimiliki, tetapi juga dipengaruh lingkungan dosen, baik selama masa studinya dahulu , sikap dosennya terdahulu terhadap sang dosen dan lingkungan kemajuan teknologi dimasanya dahulu.
Sebuah contoh sederhana, seorang dosen senior (sering juga diartikan dosen yang sudah lama mengajar, atau dosen yang sudah tua) sering berpendapat bahwa kuliah tutorial dan langsung menggunakan bahasa verbal adalah sistem perkuliahan terbaik, tanpa presentasi dan slide-slide power point dan mohon maaf bahkan ada sebagian dosen senior itu yang beranggapan pengguana teknologi proyektor( presentasi) adalah sistem malas, dan tidak efektif. Benarkah?? Ini adalah ukuran benar salah yang dianut seorang dosen senior. Berbeda lagi dengan pemikiran seorang dosen junior mengutamakan pengguanaan sarana teknologi dengan semaksimal mungkin tentunya akan sedikit kurang setuju dengan pihak-pihak yang anti dengan teknologi, menganggap pemikiran seperti itu adalah pemikiran kolot yang salah. Belum lagi pernyataan-pernyataan seorang dosen yang menyalahkanpendapat dosen lain didepan mahasiswa..
Jadi, sebenarnya yang menjadi koban adalah mahasiswa (walaupun tidak seutuhnya), mahasiswa dihadapkan dengan doktrin yang berbeda dan bahkan bertolak belakang pada saat yang sama, jadi wajar saja ketika tujuan utama mahasiswa berubah haluan menjadi mencari nilai dan ijazah karena memang untuk mencari ilmu dan pemahaman sudah dikotori dengan perang doktrin antar dosen yang tidak mungkin dianut seorang mahasiswa dalam satu waktu yang sama (namun hal ini tidak bisa menjadi alasan pembenaran melakukan segala hal untuk mencapai tujuan kuliah-nilai, red).
Ukuran benar dan salah menjadi kabur dalam benak mahasiswa, dan penggunaan metode kontijensi sering dipakai mahasiswa, yaitu menggunakan strategi kuliah dan belajar yang berbeda untuk dosen yang berbeda, sehingga lahirlah mahasiswa berkepribadian ganda, tidak idealis, takut salah dan oportunis dan tidak mau disalahkan.
Berbicara mengenai kekuasaan kita akan selalu bicara power, maka power utama dosen adalah nilai, apa lagi yang ditakutkan mahasiswa selain tidak lulus mata kuliah (yang punya multiplier effect).
masalah adalah bukti perhatian
Punya masalah??*
Bersyukurlah jika kita masih punya masalah, dan merugilah bila kita tidak lagi punya masalah yang harus diselesaikan.
Pertanyaannya, mengapa?
Pernahkah terpikir oleh kita bahwa setiap masalah yang “dititipkan” Allah pada kita adalah bentuk kasih sayang yang teramat besar dari Allah pada kita, masalah yang dilimpahkan Allah pada kita tentunya sudah dipertimbangkan Allah dengan sedemikian rupa, telah diatur sedemikian rupa dengan planing terbaik untuk kehidupan dan amal kita.
Jadi tak salah jika masalah merupakan penyerahan kasih sayang Allah pada kita dalam bentuk “penugasan” kepada kita untuk menyelesaikan masalah itu,
Allah mau “menyempatkan” waktunya untuk menyusun susatu masalah yang akan dianugerahkan pada kita, bukankah ini bentuk perhatian Allah pada kita, tapi pertanyanya apakah kita sebagai manusias sudah mampu dengan sudut pandang ini? Kebanyakan kita hanya melihat setiap masalah dari perspektif negatif, kesulitan dan bahkan penolakan. Apakah kita akan menolak kasih sayang Allah? Adakah zat yang lain yang mampu memberikan kasih sayang yang melebihi kasih sayang Allah pada kita, kesombongan yang teramat besar!! Tidakakah kita malu!!
Satu hal lagi yang perlu kita bayangkan , apa jadinya jika Allah tidak memberi dan menganugerahkan masalah-masalah pada kita? Apa yang kan kita lakukan di dunia ini? Hanya duduk, diam dan pastinya tidak produktif..
Yakinlah bahwa Allah yang maha sempurna telah mengatur sesempurna mungkin setiap masalah-masalah yang dilimpahkan pada kita, sehingga dibalik setiap penyelesaian masalah Allah telah menyiapkan penyelesaiann yang akan kita lakukan, ada hal-hal positif dibalik itu semua.
Allah telah menyiapkan sederetan nilai-nilai ibadah lebih pada kita saat kita meneyelesaikan setiap masalah, karna kecenderungan manusia yang baru akan mengingat Allah ketika ada masalah, boleh diuji; mana doa kita yang panjang saat ada masalah dengan doa kita saat kita tidak punya masalah, kita akan lebih dekat kepada Allah ketika Allah menitipkan masalahnya pada kita.
Ada sebuah filosofi ringan yang perlu direnungkan kira kira begini bunyinya “ semilir angin baru akan terasa saat kita berkeringat kelelahan” makna yang mampu kita ambil adalah bahwa kita baru akan merasakan nikmat-nikmat Allah pada kita ketika kita punya banyak masalah, saat kita dalam cobaan..
Manusia akan lebih menghargai kesehatan saat sedang sakit dibanding ketika manusia tersebut dalam keadaan sehat,
Allah mengerti sifat dasar kita ini, sehingga Allah menciptakan masalah-maslah yang pada akhirnya akan menyeret kita untuk lebih dekat kepada Allah, Allah mengaransemen sedemikian rupa setiap masalah untuk membuat manusia semakin memahami kebesaranNya. Itulah yang sebenarnyaAllah rencanakan dari semua rentetan kehidupan kita, termasuk didalamnya permasalahan-permasalahan yang terkadang tidak kita inginkan.
Pertanyaan terakhir, sudahkah kita sudah memohon masalah(untuk mengajarkan kita arti perjuangan) dalam setiap doa kita??
)* tulisan ini sudah pernah saya terbitkan di Notes Facebook, tapi saya share lagi disini, semoga bermanfaat..
Bersyukurlah jika kita masih punya masalah, dan merugilah bila kita tidak lagi punya masalah yang harus diselesaikan.
Pertanyaannya, mengapa?
Pernahkah terpikir oleh kita bahwa setiap masalah yang “dititipkan” Allah pada kita adalah bentuk kasih sayang yang teramat besar dari Allah pada kita, masalah yang dilimpahkan Allah pada kita tentunya sudah dipertimbangkan Allah dengan sedemikian rupa, telah diatur sedemikian rupa dengan planing terbaik untuk kehidupan dan amal kita.
Jadi tak salah jika masalah merupakan penyerahan kasih sayang Allah pada kita dalam bentuk “penugasan” kepada kita untuk menyelesaikan masalah itu,
Allah mau “menyempatkan” waktunya untuk menyusun susatu masalah yang akan dianugerahkan pada kita, bukankah ini bentuk perhatian Allah pada kita, tapi pertanyanya apakah kita sebagai manusias sudah mampu dengan sudut pandang ini? Kebanyakan kita hanya melihat setiap masalah dari perspektif negatif, kesulitan dan bahkan penolakan. Apakah kita akan menolak kasih sayang Allah? Adakah zat yang lain yang mampu memberikan kasih sayang yang melebihi kasih sayang Allah pada kita, kesombongan yang teramat besar!! Tidakakah kita malu!!
Satu hal lagi yang perlu kita bayangkan , apa jadinya jika Allah tidak memberi dan menganugerahkan masalah-masalah pada kita? Apa yang kan kita lakukan di dunia ini? Hanya duduk, diam dan pastinya tidak produktif..
Yakinlah bahwa Allah yang maha sempurna telah mengatur sesempurna mungkin setiap masalah-masalah yang dilimpahkan pada kita, sehingga dibalik setiap penyelesaian masalah Allah telah menyiapkan penyelesaiann yang akan kita lakukan, ada hal-hal positif dibalik itu semua.
Allah telah menyiapkan sederetan nilai-nilai ibadah lebih pada kita saat kita meneyelesaikan setiap masalah, karna kecenderungan manusia yang baru akan mengingat Allah ketika ada masalah, boleh diuji; mana doa kita yang panjang saat ada masalah dengan doa kita saat kita tidak punya masalah, kita akan lebih dekat kepada Allah ketika Allah menitipkan masalahnya pada kita.
Ada sebuah filosofi ringan yang perlu direnungkan kira kira begini bunyinya “ semilir angin baru akan terasa saat kita berkeringat kelelahan” makna yang mampu kita ambil adalah bahwa kita baru akan merasakan nikmat-nikmat Allah pada kita ketika kita punya banyak masalah, saat kita dalam cobaan..
Manusia akan lebih menghargai kesehatan saat sedang sakit dibanding ketika manusia tersebut dalam keadaan sehat,
Allah mengerti sifat dasar kita ini, sehingga Allah menciptakan masalah-maslah yang pada akhirnya akan menyeret kita untuk lebih dekat kepada Allah, Allah mengaransemen sedemikian rupa setiap masalah untuk membuat manusia semakin memahami kebesaranNya. Itulah yang sebenarnyaAllah rencanakan dari semua rentetan kehidupan kita, termasuk didalamnya permasalahan-permasalahan yang terkadang tidak kita inginkan.
Pertanyaan terakhir, sudahkah kita sudah memohon masalah(untuk mengajarkan kita arti perjuangan) dalam setiap doa kita??
)* tulisan ini sudah pernah saya terbitkan di Notes Facebook, tapi saya share lagi disini, semoga bermanfaat..
Langganan:
Postingan (Atom)